Kuliner

Tradisi Unik di Boyolali : Kenduri Udan Dawet, Tujuannya Memohon Kepada Tuhan Agar Turun Hujan

Kuliner

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI – Siapa yang tak kenal dengan dawet, minuman khas di Jawa.

Banyak di temukan di warung-warung pinggr jalan raya hingga perkampungan.

Ternyata di Kabupaten Boyolali, akan ada Kenduri Udan Dawet, Jumat (14/10/2022) mendatang.

Lokasinya ada di sendang Mandirejo, Dukuh Dukuh, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel.

Tradisi unik ini diawali dengan kirab budaya yang terdiri dari kirab Nasi Tumpeng, Dawet.

Seluruh ubo rampe itu dibawa warga menuju sendang.

Sesampai di sendang kemudian dilakukan doa untuk memohon hujan dan keselamatan oleh tokoh agama setempat.

Puncak acara dilakukan warga dengan menyiramkan dawet sembari.

Seluruh warga dan pengunjung pun bisa menikmati nasi tumpeng lengkap dengan aneka lauknya.

Kades Banyuanyar, Komarudin, kegiatan tersebut sudah dilakukan secara turun- temurun.

Yaitu digelar setahun sekali pada mongso kapat pada penanggalan Jawa, pada Jumat pon.

�Tujuannya, untuk memohon kepada Tuhan agar segera turun hujan,� ujar Komarudin, saat dihubungi TribunSolo.com, Kamis (6/10/2022)

Kegiatan didukung sepenuhnya oleh masyarakat dan pemerintah desa Banyuanyar.

Bahkan, setiap keluarga di tiga dukuh tersebut rela membuat tumpeng dan pelengkapan lauk ayam dan sayuran.

Mereka juga membuat minuman dawet.

�Ritual ini sebagai simbol awal memasuki musim hujan dan dimulainya masa bercocok tanam,� pungkasnya.

Dawet Legendaris

Berkunjung ke Pasar Gede, Solo, tak lengkap rasanya jika tak mencicipi ragam kuliner legendaris di sana.

Pasar Gede sendiri selain menjual bahan pokok, juga menjual jajanan tradisional yang rasanya enak dan segar.

Salah satu, kuliner yang sering diburu oleh pelancong yakni es cendol dawet telasih.

Es dawet telasih bisa mudah dijumpai di Pasar Gede Solo karena tersedia di banyak lapak.

Salah satunya yakni milik Darso (75), dawet telasih miliknya resepnya sendiri dari cendol, jenang sumsum original, jenang sum-sum kelir (warna hijau), tape ketan, ketan hitam, dan telasih.

Santan sebagai siraman komponen dawet telasih itu dibuat Darso langsung di lapaknya, jadi masih dalam keadaan segar.

Rasa manis didapat dari air gula pasir dan gula aren kemudian diberi es dan siap dinikmati.

“Saya jualan dawet sejak 2 tahun lalu, karena dulu jualan kelapa kurang ada pembeli jadi beralih jualan dawet,” kata Darso, Kamis (15/9/2022).

Meski tidak se-viral dawet lain, tetapi rasanya sangat enak karena dari pengalaman pelanggannya banyak kader partai politik yang sempat jajan di tempatnya.

“Satu porsi dawet telasih Darso dibanderol dengan harga Rp8.000 per mangkok kecil,” ungkapnya.

Menurutnya, pengunjung bisa makan di tempat dan menikmati suasana Pasar Gede Solo.

Darso sudah memulai menyiapkan santan di lapaknya sejah Subuh dan tutup sekitar pukul 15.00 WIB.

“Ini semua saya buat sendiri termasuk cendol, gak pakai pemanis buatan,” ujarnya.

(*)