Hiburan

Senyum Lebar Slamet Mulhadi Pamerkan Kowad di Selembar Foto Lusuh, Cinta Mati Veteran Perang RPKAD

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK – Slamet Mulhadi (84) tersenyum lebar saat memamerkan sebuah foto yang disimpan dalam kantong celananya kepada awak media di atas geladak KRI Semarang-594, Kamis (10/11/2022) pagi.

Di atas kapal perang itu, Slamet dan beberapa veteran perang Indonesia mengikuti upacara tabur bunga yang digelar TNI AL dalam rangka memperingati Hari Pahlawan di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.�

Jari jemari Slamet yang telah dipenuhi kerutan, berhati-hati ketika membuka plastik lusuh yang membungkus tempat foto itu.�

Dari dalam plastik itu, Slamet lantas mengeluarkan selembar foto kesukaannya.�

“Ini bekas pacar dulu,” katanya sambil tertawa.�

Mantan pacar yang dimaksud Slamet tak lain adalah sang istri, Marliah (78).�

Meski sang istri tak mengikuti prosesi upacara tabur bunga memperingati Hari Pahlawan, Slamet seakan menegaskan bahwa Marliah setara dengan dirinya yang adalah seorang veteran TNI.�

Dalam foto itu, Slamet tampak memasang muka garang dengan senyum tipis di bibir.

Foto itu menampilkan Slamet yang masih di usia sekitar 50-60 tahunan berdiri bersebelahan dengan Marliah.�

selebriti, senyum lebar slamet mulhadi pamerkan kowad di selembar foto lusuh, cinta mati veteran perang rpkad

Slamet Mulhadi (84),�veteran TNI Angkatan Darat dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD),-cikal bakal pasukan elit Kopassus, memperlihatkan foto istri, veteran Kowad, Marliah (78), di atas geladak KRI Semarang-594, di sela upacara tabur bunga dalam rangka memperingati Hari Pahlawan di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Kamis (11/10/2022).� (TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino)

Keduanya sama-sama berkacamata, memakai seragam hitam, dan topi veteran di atas kepalanya.�

Slamet sepertinya cinta betul dengan sang istri yang merupakan veteran Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad).

Sebab, sepanjang memamerkan foto tersebut, senyum kehangatan terus melebar di wajahnya.�

“Istri masih hidup veteran Kowad, kita sudah kakek nenek, sudah punya buyut satu. Cucu saya laki-laki semua,” kata Slamet.�

“(Sekarang) kami sudah jadi barang bekas semua,” candanya.�

Slamet sendiri merupakan veteran TNI Angkatan Darat dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

RKPAD adalah cikal bakal pasukan elit TNI AD yang kini bernama Komando Pasukan Khusus (Kopassus).�

Slamet pensiun sekitar tahun 1970-an dengan pangkat terakhir sersan mayor.�

“Begitu pensiun saya dapat Satya Lencana 30 tahun, dari Presiden Habibie tanda tangannya. Saya abdi negara full 30 tahun. Jadi, saya memberikan teladan lah,” ucapnya.�

Makan Tikus di Hutan Demi Pertahanakan NKRI

selebriti, senyum lebar slamet mulhadi pamerkan kowad di selembar foto lusuh, cinta mati veteran perang rpkad

Veteran TNI AD, Slamet Murhadi (84), saat menghadiri upacara tabur bunga Hari Pahlawan dari atas KRI Semarang-594 di perairan Kepulauan Seribu, Kamis (10/11/2022). (Gerald Leonardo Agustino/TribunJakarta.com)

Di kesempatan yang sama, Slamet Mulhadi juga menceritakan kembali kisah perjuangannya bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia puluhan tahun silam.�

Peperangan puluhan tahun silam memaksa dirinya untuk bertahan hidup di manapun dan dalam kondisi apapun.�

Bahkan, Slamet mengungkapkan dirinya seringkali harus makan binatang liar yang ditemukannya di hutan-hutan tatkala perang berlangsung.�

Veteran perang kelahiran Purworejo, 19 April 1938 itu menjadi salah satu tentara yang ditugaskan mempertahankan kedaulatan NKRI saat terjadi pemberontakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta).�

“Zaman Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) itu saya ditaruh di Manado sana. Kami jadi prajurit di sana,” kata Slamet.�

Saat pemberontakan Permesta terjadi pada tahun 1957, Slamet dan sejumlah anggota RPKAD dikirim ke Manado, Sulawesi Utara, untuk melawan gerakan militer yang ada di sana.�

Diceritakannya, saat itu Slamet bersama satuannya seringkali harus keluar masuk hutan di Manado demi mempertahankan kedaulatan NKRI.�

Slamet tak bisa terlalu banyak mengungkapkan bagaimana situasi kontak senjata yang terjadi saat itu.�

Dengan tegas Slamet hanya bisa menyingkat deskripsinya: ini soal menembak atau ditembak.�

“Alhamdulillah, kalau peperangan kami enggak bisa cerita. Bagaimana mau cerita, kalau kami enggak nembak, kan kami ditembak, kayak nonton film aja, gimana sih,” ucapnya.�

“Saya zaman Permesta, persenjataan kami kan masih senjata biasa, Permesta sudah mending,” sambung Slamet.�

selebriti, senyum lebar slamet mulhadi pamerkan kowad di selembar foto lusuh, cinta mati veteran perang rpkad

Dua veteran perang mengikuti upacara tabur bunga dari atas geladak KRI Semarang-594 di perairan Kepulauan Seribu dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 2022, Kamis (10/11/2022). Di momen Hari Pahlawan tahun ini, veteran perang TNI Angkatan Darat dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Slamet Mulhadi (84), menyarankan pemerintah mengadakan wajib militer generasi muda Indonesia.� (TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino)

Salah satu yang paling diingat Slamet ialah caranya bertahan hidup menjaga perut tetap terisi ketika sedang berada di ganasnya hutan rimba.�

Slamet bercerita, ia dan sesama anggota TNI saat itu tak jarang harus mencari dan membunuh tikus untuk bisa mengisi perut kosongnya.�

“Kalau di Manado sana tikus juga kita makan,” katanya sambil tersenyum.�

Namun, tikus yang dimakan Slamet bukan sembarang tikus.�

Ia hanya akan mencari tikus pohon yang dianggapnya bersih karena binatang pengerat tersebut hanya memakan buah-buahan.�

“Kalau tikus dia tikus pohon, memang dia bersih. Tikus pohon makannya buah,” ucapnya.�

Slamet bertugas dalam perang Permesta di Manado selama dua tahun.�

Setelahnya, Slamet kembali ditugaskan dalam Operasi Trikora (1961-1962) dan Operasi Dwikora (1963-1966).�

Kakek yang sudah punya seorang buyut itu mengakhiri ceritanya dengan bersyukur.

Meski banyak perang telah dilaluinya, Slamet masih diberikan keselamatan hingga terus bisa memperingati Hari Pahlawan sebagai veteran perang kehormatan.�

“Di Manado dua tahun lah, Permesta bubar kan kita pulang ke sini kembali lagi, terus Trikora, Dwikora. Saya tugasnya keliling, dibuang sana dibuang sini,” ucapnya.�

“Kalau umur kan yang di Atas yang punya,” tandasnya mengakhiri cerita.�