Hiburan

Sambo Pulang Kerja Tak Pernah Bertemu Putri, Tiap Hari Seragam Disiapkan Ajudan

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA – Eks Kadiv Propam Mabes Polri Ferdy Sambo ternyata tak tinggal satu rumah dengan sang istri, Putri Candrawathi. Setiap harinya, Ferdy Sambo harus diurus oleh para ajudannya.

Fakta itu terungkap dalam persidangan dalam agenda mendengarkan keterangan saksi salah satu ajudan Sambo, Adzan Romer di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Rabu (9/11). Awalnya, Romer mengungkapkan bahwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi memang tak tinggal satu rumah. Adapun Sambo tinggal di rumahnya di Jalan Bangka, Kemang, Jakarta Selatan.

Sementara itu, Putri Candrawathi tinggal di rumah di Jalan Saguling, Jakarta Selatan. Menurut Romer, Putri pergi ke Jalan Bangka hanya kalau ada acara khusus.

“Pernah (Putri ke rumah Bangka), kalau ada acara,” kata Romer dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Setiap harinya, kata Romer, memang Ferdy Sambo tidak pulang ke rumah yang ditinggali istrinya di Jalan Saguling. Seusai pulang kantor, Sambo setiap harinya pulang ke rumah di Jalan Bangka.

“Setiap Pak FS ke Bangka itu sendiri? Ibu di Saguling?,” tanya Jaksa Penuntut Umum.

“Iya, bapak sendiri pulang dari kantor,” jawab Romer.

Lantas, Jaksa menanyakan perihal siapa yang menyiapkan seragam hingga kelengkapan kerja Ferdy Sambo setiap harinya. Lalu, Romer pun menyatakan yang menyiapkan hal itu merupakan para ajudan.

“Biasanya langsung ajudan. Habis itu berangkat tergantung Pak. Kalau kegiatannya apa. Kalau tidak kegiatan apa-apa langsung ke kantor. Biasanya juga kita ke Saguling dulu,” tukasnya.

Dicecar Jaksa

Sementara itu Jaksa Penuntut Umum (JPU) mempertanyakan soal keterangan soal penggunaan handy talky (HT) yang dipakai para ajudan Ferdy Sambo.Dalam kesaksian dua ajudan yakni Adzan Romer dan Prayogi Iktara Wikaton, mereka kompak tidak mendengar adanya panggilan Ferdy Sambo ke Ricky Rizal saat di pribadinya rumah Saguling, Pancoran, Jakarta Selatan.

Awalnya, JPU bertanya kepada Adzan Romer soal sebagai ajudan lebih aktif mana berkomunikasi melalui HT atau Handphone.”Biasa kami pakai handphone biasa juga kami pakai HT,” kata Romer saat menjadi saksi untuk terdakwa Bripka RR dan Kuat Maruf.

“HT itu frekuensinya berbeda atau frekuensinya saling terkoneksi antara satu ajudan dengan yang lain?” tanya Jaksa.

“Sama Pak, satu frekuensi,” kata Romer.

“Misal antara saudara dengan Prayogi (berkomunikasi lewat HT) ada yang (bisa) mendengarkan?” tanya jaksa.

“Pasti Pak,” ujar Romer.

“HT yang saudara gunakan apakah sama dengan yang digunakan dengan saudara Ricky Rizal?,” kata Jaksa.

“Rata-rata sama, Pak,” jawab Romer.

“Terkoneksi tidak?” tanya Jaksa.

“Terkoneksi, Pak,” ungkap Romer.

Mengetahui pernyataan itu, jaksa lalu mengkonfirmasi apakah Romer mendengar percakapan saat berada di rumah pribadi Ferdy Sambo.

“Pada saat itu, di hari itu apakah ada percakapan atau bunyi di HT saudara?” tanya jaksa.

“Di mana ini Pak?” kata Romer malah balik bertanya.

“Di HT-nya?,” tegas jaksa.

“Maksudnya lokasinya di mana, Pak,” ujar Romer.

“Kalau pada saat kumpul-kumpul di Saguling?” tanya Jaksa kembali.

“Tidak mendengar apa-apa, Pak,” beber Romer.

Di sana, Romer menyebut saat itu kemungkinan dirinya tidak menggunakan headset ditelinganya yang tersambung di HT tersebut.

“Mengapa saat itu tidak terdengar?” tanya Jaksa.

“Kami tidak tahu, Pak. Mungkin kalau ada komunikasi yang sedang dilakukan, headset yang di telinga saya pasang,” ungkap Romer.

“Berarti kalau headset tidak terpasang tidak terdengar?” kata Jaksa.

“Tidak terdengar, Pak,” jelas Romer.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Prayogi. Dia juga menyebut tidak mendengar adanya percakapan dari HT saat di rumah Saguling.

“Kalau kebiasaan menggunakan HT itu selalu standby atau gimana?” tanya Jaksa.

“Selalu saya pakai, Pak,” kata Prayogi.

“Pada saat itu ada dengar?” tanya Jaksa kembali.

“Tidak mendengar,” ungkap Prayogi.

“Padahal kondisi HT pada saat itu (kejadian penembakan) menyala punya saudara?” tanya Jaksa.

“Punya saya menyala,” ucap Prayogi.

“Kalau waktu di Saguling bagaimana?” timpal jaksa.

“Tidak mendengar,” terang Prayogi.