Berita

Saksi: Surat Izin Senjata Eliezer dan Yosua Tak Dilengkapi Tes Psikologi-Dokter

otomotif, saksi: surat izin senjata eliezer dan yosua tak dilengkapi tes psikologi-dokter

Terdakwa kasus pembunuhan berencana terhadap Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Richard Eliezer bersiap menjalani sidang lanjuutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Senin (21/11/2022). Foto: Fauzan/ANTARA FOTO

Kepala Urusan Logistik Pelayanan Masyarakat (Yanma) Polri, Linggom Parasian Siahaan, mengungkapkan kejanggalan penerbitan surat izin membawa senjata bagi Bharada Richard Eliezer dan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. Surat izin keduanya diterbitkan atas dasar permintaan eks Kadiv Propam Ferdy Sambo.

Penerbitan surat izin itu berawal saat Linggom pada 15 Desember 2021 dipanggil Kepala Yanma Polri yang saat itu dijabat Kombes Hari Nugroho. Saat itu, ia diminta untuk membuat surat izin membawa senjata api atas nama Eliezer dan Yosua.

”Kaitannya adalah saya yang mengeluarkan surat izin memegang dan menggunakan senjata api dari Eliezer dan almarhum Brigadir Yoshua. Siap, atas perintah dari Bapak Ka (kepala) Yanma, pada waktu itu Kombes Hari Nugroho,” ujar Linggom saat menjadi saksi dalam persidangan kasus pembunuhan Yosua di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (28/11).

”Bapak Ka Yanma perintahkan saya, ‘tolong kamu buatkan SIMSA-nya [Surat Izin Membawa Senjata Api]. Saya tunggu sekarang’. Saya naik ke ruangan, saya perintahkan anggota untuk membuat, setelah selesai saya buat, saya antarkan lagi ke ruangan Ka Yanma,” sambungnya.

Hanya saja setelah selesai, surat izin tersebut menurut Linggom tidak langsung diserahkan, melainkan diminta untuk disimpan kembali oleh Kombes Hari.

Hal itu terjadi lantaran baik Eliezer maupun Yosua dinilai tak sanggup memenuhi persyaratan penerbitan surat izin yang telah ditentukan sebelumnya.

”Besok harinya Pak Ka Yanma memanggil saya, ‘ini surat senjata apinya kamu simpan kembali karena prosedurnya tidak lengkap. Tidak ada tes psikologi, tidak ada pengantar satker, dan tidak ada surat keterangan dokter. Kemudian surat itu kembali saya simpan,” ucap Linggom.

otomotif, saksi: surat izin senjata eliezer dan yosua tak dilengkapi tes psikologi-dokter

Hakim menunjukkan barang bukti senjata HS dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat dengan terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Chandrawathi di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (22/11/2022). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Namun keputusan Hari disebut kembali berubah. Empat hari kemudian, Sambo disebut menghubungi langsung Kombes Hari agar surat izin tersebut dapat segera diterbitkan.

”Empat hari kemudian saya ditelepon lagi sama Pak Ka Yanma agar menurunkan kembali surat senjata api tersebut. Saya antar ke ruangan Beliau, saya serahkan ke bapak Ka Yanma, setelah pak Ka Yanma terima, langsung Pak Ka Yanma berbicara kepada saya ‘barusan saya ditelepon Kadiv Propam Pak Sambo agar segera tanda tangan’. Setelah itu saya serahkan,” ungkap Linggom.

”[padahal] psikologi, surat pengantar satker maupun surat keterangan dokter [tidak lengkap],” lanjut dia.

Seharusnya menurut Linggom agar surat izin diterbitkan para pihak yang mengajukan harus terlebih dahulu memenuhi seluruh persyaratannya.

”Prosedur untuk mengeluarkan surat izin senjata api, itu wajib ada surat keterangan dari satker, kemudian surat keterangan lulus tes psikologi, kemudian surat keterangan sehat dari dokter,” kata Linggom.

”Yang tertulis di kertas itu untuk Bharada Eliezer [jenis] glock, kemudian untuk Brigadir Yosua HS,” pungkasnya.