Otomotif

Pria di Jaktim Jadi Polisi Gadungan, Rampas 60 Motor Warga Selama 2 Bulan

otomotif, pria di jaktim jadi polisi gadungan, rampas 60 motor warga selama 2 bulan

Ilustrasi Penjara. Foto: Shutter Stock

Sudah dua bulan belakangan ini, PS berpura-pura menjadi anggota polisi. Selama menjalani polisi gadungan itu, dia berhasil merampas 60 sepeda motor milik warga.

Modus pelaku dengan menuduh korbannya sebagai pelaku pengeroyokan. Korban lalu diminta menyerahkan sepeda motornya untuk keperluan penyelidikan dan menyuruh mengambil di kantor polisi.

Agar terlihat seperti polisi sungguhan, PS juga membawa senjata api bohongan. Senjata itu airsoftgun, yang dia bawa ke mana-mana saat mencari mangsa.

“Motifnya adalah yang bersangkutan mengaku sebagai anggota polisi. Tersangka tersebut menodongkan senjata dengan mengaku sebagai anggota polisi dan menuduh korban sebagai pelaku pengeroyokan,” terang Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Budi Sartono dalam jumpa pers, Kamis (24/11).

“Jadi pakai airsoftgun ‘Anda pelaku pengeroyokan ini ya, sini dulu motornya. Korban [kemudian] ditinggal, ‘nanti kamu saya tunggu di kantor polisi’, sehingga mau diamankan ke kantor, motornya diambil dulu,” sambungnya.

otomotif, pria di jaktim jadi polisi gadungan, rampas 60 motor warga selama 2 bulan

Kapolres Jakarta Timur Kombes Pol Budi Sartono. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Budi mengatakan, dalam melakukan tindak kejahatan itu PS dibantu oleh satu tersangka lainnya berinisial AD yang berperan sebagi penadah.

Saat ini, polisi masih memburu dua tersangka lain yang juga terlibat dalam tindak kejahatan ini.

“Ada dua DPO yang tidak bisa kami sebutkan namanya di sini,” katanya.

Budi mengatakan jika pelaku sudah hampir dua bulan melakukan aksinya dengan modus yang sama di berbagai wilayah Jakarta dan Depok.

“Menurut pengakuan tersangka kurang lebih sudah ada 60 kejadian, kita sudah bisa amankan ada 19 roda dua yang kita amankan dari penadah-penadah,” bebernya.

Sementara terkait kepemilikan senjata airsoftgun, Budi menyebut pelaku membelinya secara online.

Atas perbuatannya, pelaku disangkakan Pasal 365 ayat 1, ayat 2 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan dengan ancaman minimal 9 tahun penjara.