Berita

Presidensi G20 Turut Mendorong Laju Pertumbuhan Ekonomi Nasional

otomotif, presidensi g20 turut mendorong laju pertumbuhan ekonomi nasional

Presidensi G20 Turut Mendorong Laju Pertumbuhan Ekonomi Nasional

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. G20 Bali Leader’s Declaration dinilai menjadi solusi kolektif bagi berbagai tantangan global. Keberhasilan KTT G20 Indonesia juga menunjukkan pulihnya kepercayaan dunia pada multilateralisme dalam menyelesaikan masalah dunia, serta meneguhkan komitmen negara-negara terhadap isu yang paling mendesak bagi masyarakat global

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, Indonesia juga menerima banyak manfaat dari penyelenggaraan Presidensi G20. Seperti komitmen pendanaan infrastruktur berkualitas dari Amerika Serikat melalui skema Partnership for Global Infrastructrure and Investment (PGII) dengan total dana sebesar US$ 600 miliar.

Selain itu, ada juga komitmen pendanaan percepatan dekarbonisasi dari negara G7 untuk pengembangan kendaraan listrik, teknologi, dan penghentian dini pembangkit listrik berbasis fosil di Indonesia melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP) sebesar US$ 20 miliar.

“Beberapa program komitmen investasi tersebut, terutama transisi energi itu nilainya besar sekali. Dampaknya langsung maupun tidak langsung ke semua sektor, tidak hanya ke sektor teknis yang menjadi komitmen di dalam pembiayaan itu. Multiplier effect-nya ke sektor yang lain,” ujar Susiwijono dalam keterangan resminya, Minggu (11/12).

Sementara di tahun 2023, Indonesia akan menjadi Ketua ASEAN. Di tengah periode krisis global saat ini, ASEAN telah menunjukkan resiliensinya dengan tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia.

Adapun dalam menghadapi risiko ekonomi global di tahun 2023, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap resilien dan dapat mencapai target sebesar 5,2% pada tahun 2022 dan diproyeksikan sebesar 5,3% pada tahun 2023.

“Berbagai kondisi tantangan global ini, pemerintah sudah cukup siap untuk mengantisipasi. Kita lihat pertumbuha n ekonomi kita di tahun 2022, sampai kuartal III-2022 masih 5,72%. Di tahun 2023, dari beberapa indikator makro kemudian leading indicator, kami masih yakin bisa di atas 5%. Tapi kita juga masih lebih baik dibanding sebagian besar negara lain,” kata Susiwijono.