Berita

Polling kumparan: 46,03% Orang Pilih Lele Jadi Menu Andalan di Warung Pecel Lele

kuliner, polling kumparan: 46,03% orang pilih lele jadi menu andalan di warung pecel lele

Ilustrasi warung pecel lele dengan spanduk yang ikonik. Foto: Artcloud/Shutterstock

Sebanyak 46,03 persen pembaca kumparan memilih ikan lele sebagai menu andalan di warung pecel lele. Ini diketahui berdasarkan hasil polling yang dilakukan dalam periode 13-21 November 2022.

Terdapat 1.045 pembaca yang memberikan pendapatnya pada polling ini. Sebanyak 481 orang di antaranya memilih menu ikan lele saat berada di warung pecel lele. Sementara, sebanyak 38,66 persen atau 403 orang lebih memilih ayam sebagai menu andalannya.

Ikan nila berada di posisi ketiga sebagai menu yang paling banyak dipilih, yakni 75 orang atau 7,27 persen. Disusul dengan tempe tahu 5,65 persen, dan menu lainnya 2,39 persen.

Pecel lele memang menjadi santapan yang sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan, menu pecel lele disebut sebagai ‘comfort food’ bagi orang perkotaan.

Warung pecel lele menyediakan berbagai menu yang dapat dipilih oleh pelanggan. Mulai dari ikan lele, ayam, ikan nila, bebek, atau sekadar tahu dan tempe. Pilihan protein pengganti lele ini hadir karena dahulu banyak orang yang menganggap bahwa budidaya ikan ini menggunakan cara yang “jorok”.

Namun, Soen’an Hadi Poernomo, Ketua Forum Putra Asli Lamongan (Pualam), menegaskan seiring berkembangnya zaman pembudidaya ikan lele sudah menerapkan Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB). Selain itu, lele juga makanan rendah kalori, tinggi protein, dan tinggi vitamin B-12, selenium, serta asam lemak omega-3 dan omega-6.

Dengan segala kelebihan pecel lele, mulai dari rasa, harga yang ekonomis, hingga manfaat yang ditawarkan bagi kesehatan, wajar saja, kalau makanan ini tetap berkembang dan menjadi hidangan favorit masyarakat Indonesia di tengah terpaan kuliner kekinian.

kuliner, polling kumparan: 46,03% orang pilih lele jadi menu andalan di warung pecel lele

JJ Rizal setelah menyerahkan petisi usulan penggantian nama Jakarta International Stadium (JIS) kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (22/6/2022). Foto: Haya Syahira/kumparan

Bahkan, Sejarawan JJ Rizal dan Soen’an yakin derajat pecel lele bukan hanya sekadar makanan kaki lima, bahkan mampu menyaingi fast food lainnya dari berbagai negara.

“Jadi dia (pecel lele) mewakili kedirian kita, entitas kultural kita di dunia urban yang perkontestasinya itu kuat, persaingannya kuat dalam eksistensi budaya makan, karena ada macam-macam fast food dari Korea, Jepang, sampai Amerika. Nah, dia (pecel lele) mewakili fast food Indonesia seperti soto, nasi goreng atau warung Padang,” tutup JJ Rizal.

Awalnya, Soen’an menjelaskan bahwa asal mula pecel lele menjadi bukti dari semangat merantau orang Lamongan mencari mata pencarian; sekaligus menggambarkan betapa menyedihkannya keadaan kota yang berada di wilayah Jawa Timur itu sampai-sampai membuat warganya sendiri tidak betah di kampung halaman.

“Saat itu Lamongan terkenal sebagai Kota Kodok, yaitu yen ketigo ora biso ndodok, yen rendeng ora biso cewok, maksudnya kalau kemarau itu (di Lamongan) kering sekali sampai tanah retak-retak, begitu musim penghujan malah banjir. Maka, karena itu masyarakat Lamongan mau pindah ke tempat lain saja,” kisahnya saat berbincang dengan kumparanFOOD, Selasa (8/11).

Memasuki tahun 1980-an, pecel lele semakin banyak diminati di kota-kota besar, hingga puncak kejayaan makanan itu terjadi pada tahun 1990-an. Hal ini juga diungkapkan oleh JJ Rizal yang turut mengatakan kepada kumparan bahwa pecel lele hadir di kota-kota besar bersamaan dengan datangnya para masyarakat urban.

“Saya berbicara di kota Jakarta, ya. Itu di tahun 1970-an bersamaan dengan arus urban yang semakin besar ke kota Jakarta, sampai kota Jakarta mau ditutup. Tapi itu, bisa dibilang pertama kedatangan (pecel lele) tapi dia tidak langsung merebak. Merebaknya di tahun 1990-an,” tambahnya.