Otomotif

Perusahaan Farmasi Ngaku Ditipu Pemasok Bahan Baku Pelarut Obat Sirup, Benarkah?

SERAMBINEWSCOM, JAKARTA – Perusahaan farmasi PT Yarindo Farmatama mengaku menjadi korban penipuan oleh supplier bahan baku pelarut obat sirup CV Samudera Chemical (SC). Diketahui, CV Samudera Chemical (SC) merupakan pemasok bahan baku obat sirup yang tidak memenuhi syarat kepada PT Yarindo Farmatama.

Berdasarkan sampel bahan kimia CV SC yang telah diuji di laboratorium, hasilnya menunjukan sebanyak 10 sampel bahan baku pelarut Propilen Glikol yang disampling terdeteksi mengandung EG sampai 99 persen. Diwakili Manager Bidang Hukum,

Vitalis Jebarus menyebut, sejak awal perusahaan PT Yarindo merupakan korban penipuan dari pemasok bahan baku. “Hari ini pernyataan kami tersebut terbukti.

BPOM mengumumkan adanya Propilen Glikol yg isinya 99 Etilen Glikol di bahan baku CV Samudera Chemical yang kemudian dijual ke CV Budiarta, lalu sampai ke pabrik kami PT Yarindo Farmatama,” ujar Vitalis Jebarus, Kamis (10/11/2022).

Pihaknya mengapresiasi BPOM yang telah berhasil mengungkap praktik nakal perusahaan supplier CV Samudera Chemical.

Atas temuan itu, Vitalis Jebarus menyebut jika PT Yarindo Farmatama menjadi pihak yang sangat dirugikan oleh perilaku CV Samudera Chemical dan CV Budiarta karena telah menjual bahan baku yang sama sekali tidak sesuai standar yang disepakati bersama.

“Kami memesan propilen glikol merk Dow Chemical dengan harga standar pharmaceutical grade yang jauh lebih mahal daripada yang industrial grade. Tapi yang dikirimkan ternyata tidak sesuai dengan pesanan kami, padahal segelnya utuh. Silakan dilihat bukti Purchase Order (PO) kami, termasuk dengan harga yang kami bayarkan kepada CV Budiarta. Itu adalah harga untuk bahan baku propilen glikol dengan kualitas tertinggi. Kami tidak pernah berkompromi untuk menjaga kualitas obat yang kami produksi,” ujar Vitalis Jebarus.

Sebelumnya kepala BPOM Penny K. Lukito menjelaskan, setelah BPOM melakukan penelusuran lanjutan ditemukan bahwa CV Samudera Chemical merupakan supplier dari propilen glikol yang dipakai oleh industri farmasi PT Yarindo Farmatama.

“Hasil uji menunjukkan bahwa 12 sampel dengan identitas propilen glikol terdeteksi memiliki kandungan etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) yang sangat jauh dari persyaratan yang seharusnya 0,1 persen. Ada sembilan dari sampel yang diambil mengandung cemaran EG dengan kadar mencapai 52 persen. Bahkan ada sampel yang mengandung cemaran EG hingga 99 persen,” kata Penny dalam konferensi pers di Tapos, Depok.

“Jadi hampir 100 persen kandungan EG, bukan lagi propilen glikol. Berarti juga ada aspek penipuan karena labelnya propilen glikol, tetapi dalamnya EG, pencemaran yang menimbulkan suspek untuk gagal ginjal atau kematian,” lanjut Penny.

Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menyayangkan mayoritas obat sirup yang ditemui adanya cemaran penyebab gangguan ginjal akut, sebagian besar dikonsumsi masyarakat menegah ke bawah.

“Lebih memprihatinkan adalah dalam konteks gangguan ginjal akut ini mayoritas obat tercemar adalah obat murah yang dikonsumsi menengah ke bawah,” ujarnya.

Sebagian yang mengkonsumsi berada di tengah-tengah keterbatasan akses layanan kesehatan dari sisi finansial, geografis dan sebagainya. Hal ini, kata Dicky yang menjadi potensi kasus tersebut minim terdeteksi.

“Karena sistem deteksi, komitmen dan penjangkauan juga lemah. Sehingga akhirnya korban yang ada tidak terdeteksi, tidak terlaporkan dan terungkap,” papar Dicky.

Sehingga, kasus yang menguak bersifat hanya di permukaan atau dekat dengan pusat pemerintahan. Sedangkan masyarakat yang terbatas tadi terpinggirkan dan terabaikan.

“Artinya pemerintah telah gagal memenuhi hak kesehatan masyarakat. Padahal konsumsi obat kemungkinan besar korban dari adanya keteledoran ini,” tegasnya.

Tidak hanya keterbatasan finansial dan geografis saja, situasi ini juga ditambah dengan keterbatasan literasi kesehatan. Hal ini, kata Dicky mesti menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan ke depannya.

Agar lebih memahami situasi dan permasalahan yang terjadi di masyarakat. “Tidak hanya permukaan atau di daerah perkotaan, atau melihat pada indikator yang tidak mewakili kejadian sesungguhnya di lapangan,” pungkasnya.(Tribun Network/ais/rin/wly)