Berita

Pemuda Desa di Tegal ini Budidayakan 19 Jenis Anggur yang Bernilai Jual Tinggi

kuliner, pemuda desa di tegal ini budidayakan 19 jenis anggur yang bernilai jual tinggi

Dwi Pradika Setiawan saat merawat tanaman anggur yang dibudidayakannya.

TEGAL – Pemuda Desa Cawitali, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Dwi Pradika Setiawan (29) pulang kampung pada tahun 2020. Dan memberanikan diri mengembangkan bisnis pertanian.

Ia membudidayakan 19 jenis anggur yang bernilai ekonomi tinggi. Seperti anggur Trans, Ninel, Julian, Jubile, Jupiter, Akademik, Gosv, Landys, Veles, Oscar, Moondrop, Banana, Everest, Laura, Baeuty midnight, Ara 15, Harold, dan Dixon.

PanturaPost.com berkesempatan berkunjung ke lahan pekarangan rumahnya, Minggu (20/11/2022). Lahan pekarangan tersebut dijadikan green house. Di lahan yang tidak begitu luas itu terdapat pohon anggur yang sedang berbuah dan ratusan bibit anggur dengan berbagai jenis yang siap dijual dan dikirim ke pembeli.

Dika, panggilan akrabnya, awal menanam anggur tahun 2020 dan mulai menjual bibit anggur sejak Januari tahun 2021. Saat itu, dirinya harus berhenti kerja di Jakarta karena dampak pandemi COVID-19. Saat pulang kampung Dika mulai memberanikan diri terjun ke dunia pertanian dengan membudidaya buah anggur.

Pemuda yang merupakan lulusan sarjana teknik mesin ini berani mengembangkan bisnis pertanian. Kebetulan saat masih kerja di ibu kota, Dika pernah mengikuti sebuah seminar tentang budidaya buah anggur.

“Saat berhenti kerja karena dampak pandemi, saya pulang kampung dan mulai mencoba bertani buah anggur. Tapi, pas praktek kok sulit banget ditanem. Ternyata ada rahasia- rahasia yang belum saya tahu,” katanya pada PanturaPost, Sabtu (19/11/2022).

Setelah berhasil membudidayakan, Dika mulai menjual buah dan bibit anggur itu ke lingkungan rumahnya. Setelah itu mulai dipublikasikan melalui aplikasi whatsapp. Pelan – pelan mulai banyak yang minat dan pesan. Dari situ mulai mengembangkan dengan membuka reseller.

“Untuk harga bibit anggur sendiri standar, dari harga Rp. 100.000 sampai Rp. 250.000 kalau yang kecil – kecil. Namun, kalau yang model tabulapot dan sudah berbuah, saya jual Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta,” ungkapnya.

“Target saat ini tidak muluk–muluk. Sehari bisa jual 1 bibit kecil aja, dalam 1 bulan minimal 30 buah, udah mendapat hasil UMR Jakarta. Belum yang dari reseller-resellernya,” tambah dia.

Dika pun mengaku mendapat pesanan dari luar desa, kecamatan bahkan di luar daerah Kabupaten Tegal. Tidak hanya itu saja, pembeli bibit anggur pun bisa melakukan konsultasi tentang proses penanaman buah anggur.

Dia menerangkan, proses melakukan budidaya anggur menggunakan beberapa metode. Yakni metode grafting, yaitu memakai cutting anggur lokal, yang dikaluskan dulu, baru disambung dengan batang muda yang bertunas. Metode kedua, Ownroot, yaitu batang anggur import yang tua langsung ditanam.

“Kelebihan grafting, perakaran lebih bagus daripada ownroot,” ujarnya.

Ia menuturkan, buah anggur bukan musiman. Jadi bisa di-schedule kira-kira mau panen kapan. Standard itu setahun dua kali panen.

“Kalau pengen ngebut, bisa 3x dalam setahun.”

Selama ini orang membeli buah anggur darinya dengan cara langsung beli di pohon. Karena ia belum menjual buah itu ke pasar-pasar. Tentu saja dengan beli di pohon, buah anggur lebih fresh.

“Tahun depan goal saya ingin mempunyai perkebunan, agar bisa produksi buah anggur dan bisa supply pasar. InsyaAllah rencana bulan Januari 2023 akan membangun perkebunan anggur di jalur wisata Guci seluas 2000 meter, dengan target produksi 1 ton sekali panen, dengan perkiraan bulan Desember 2023 pas tahun baru sudah bisa panen,” ungkapnya. (*)