Kuliner

Oleh-oleh Bali, Olah Pare Jadi Camilan Keripik, Puspawati Tambah Koleksi Makanan Khas Desa Pancasari

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA – Selain terkenal dengan Danau Buyan, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng juga terkenal dengan buah stroberi dan keripik bayam. Makanan tersebut kerap dibeli oleh para wisatawan sebagai buah tangan, bila melancong ke desa tersebut. Namun melihat produk yang disajikan sebagai oleh-oleh khas Desa Pancasari masih sedikit, muncul lah ide kreatif dari Luh Puspawati (49). Wanita asal Banjar Dinas Buyan, Desa Pancasari ini berinovasi, mengolah pare menjadi camilan keripik.�

Ditemui Minggu (11/12), Puspawati menyebut, keripik pare ini mulai dibuat sejak 2019 lalu. Awalnya hanya coba-coba, sebab saat masih berjualan sembako di Pasar Pancasari, Puspawati melihat banyak pedagang lainnya yang menjual pare kualitas baik dengan ukuran besar, namun sepi pembeli. Puspawati pun mencoba berinovasi mengolah sayur yang memiliki cita rasa pahit itu menjadi camilan keripik.�

“Berawal dari penasaran saja, gimana kira-kira rasanya kalau dibuat jadi keripik. Kalau keripik bayam kan sudah biasa. Awalnya saya buat untuk konsumsi sendiri. Saya bawa ke pasar untuk camilan saat jualan. Saya bagi-bagi juga untuk teman-teman di pasar, ternyata mereka suka. Akhirnya saya disuruh� bikin lagi, untuk di jual,” katanya.�

Puspawati menyebut, membuat keripik pare ini cukup rumit dan memakan waktu. Namun omset yang dihasilkan, sebanding dengan kerja kerasnya. Sebulan, Puspawati mampu meraup keuntungan rata-rata Rp 3 juta hinggaa Rp 4 juta.�

Pare dengan kualitas baik, mulanya di potong-potong. Untuk menghilangkan rasa pahit, pare kemudian direndam dengan air yang dicampurkan garam selama dua jam. Selanjutnya, pare dicuci bersih lalu direndam lagi menggunakan air yang dicampur dengan kapur sirih selama tiga jam.�

“Setelah direndam dengan air kapur sirih, dicuci bersih. Lalu direndam lagi pakai air hangat selama tiga jam. Lalu pare diperas pelan-pelan agar tidak patah. Selanjutnya pare digoreng dengan tepung yang dicampur dengan bumbu-bumbu,” terangnya.�

Sekali produksi, Puspawati mampu menghabiskan 20 kilogram pare. Pare yang digunakan harus berukuran 15 hingga 20 centimeter. Sebab jika menggunakan pare yang kecil, bentuknya akan menciut dan keriting saat digoreng. Produk yang diberi merek Keripik Pare Sukawi Utama itu kini berhasil terjuang di warung dan toko-toko di wilayah Desa Pancasari sebagai oleh-oleh. Puspawati menjual camilan keripik pare tersebut dalam dua kemasan, masing-masing isi lima gram seharga Rp 5 ribu per bungkus, serta satu pack berisi 12 pcs seharga Rp 20 ribu.�

Menjual camilan keripik pare ini dikui Puspawati tidak lah gampang. Saat baru mulai menjalani bisnis, Puspawati sempat kehilangan pelanggan, akibat dampak dari pandemi Covid-19. “Pembelinya sepi. Jadi sempat tutup produksinya. Baru mulai jualan tahun ini, pelanggannya sudah mulai meluas sampai di wilayah Kota Singaraja. Jelang Galungan juga pesanan sudah menumpuk, sampai ratusan bungkus,” ungkapnya. (*)