Menemukan

Menyusuri Pekuburan China Terluas se-Asia Tenggara di Pangkalpinang, Ada Makam Senilai Rp 500 Juta

BANGKAPOS.COM – Bagi sebagian orang Tionghoa, kuburan atau makam adalah persembahan terakhir keluarga kepada mendiang yang meninggal.

Hal inilah yang membuat kuburan orang Tionghoa dibuat sebaik dan sebagus mungkin.

Semakin tinggi status sosial yang dikubur, maka biasanya akan semakin besar bentuk makamnya.�

Di Pekuburan Sentosa Pangkalpinang dapat ditemukan sebuah makam yang dibangun dengan granit bernilai Rp 500 juta.

Makam tersebut adalah milik Ho Thian Yong yang wafat pada 16 Desember 2002.

“Benar, ada makam dengan harga Rp 500 juta di kawasan Pekuburan Sentosa,” dikonfirmasi sejarawan, Akhmad Elvian, Jumat (25/11/2022).

Kali ini Bangkapos.com akan mengajak Anda menyusuri kompleks pekuburan yang dinobatkan sebagai pekuburan terluas se-Asia Tenggara tersebut.

Masuk lewat gapura bertuliskan Tempat Pekuburan Umum Tahun 1935, Anda akan melihat pemandangan belasan ribu makam dengan topografi berbukit.

Jangan salah, meski pemandangan makam identik dengan hal yang menyeramkan, beda halnya jika Anda menyusuri Pekuburan Sentosa di pagi atau siang hari.

Penataan yang rapi membuat kesan menakutkan hilang seketika saat berada di kawasan tersebut.

Angin sejuk perbukitan dan rindangnya pepohonan juga dapat dirasakan langsung saat melewati kompleks pemakaman seluas hampir 20 hektare itu.

Ya, Anda bisa menyusuri kompleks pekuburan dengan sepeda motor hingga mobil saking luas tempatnya.

Pekuburan Sentosa terletak di sisi Timur Jalan Soekarno Hatta Pangkalpinang.

Pekuburan ini juga akrab dengan sebutan Tjung Hoa Kung Mu Yen.

Mengutip Buku Kampung di Bangka jilid I, Akhmad Elvian, Pekuburan Sentosa berdiri sejak tahun1935.

menemukan, pengalaman, menyusuri pekuburan china terluas se-asia tenggara di pangkalpinang, ada makam senilai rp 500 juta

Pekuburan Sentosa Pangkalpinang dengan luas 19,945 hektar.

Pekuburan ini terletak memanjang dari utara ke arah selatan dengan luas kompleks makam seluruhnya 19,945 hektar.

Sampai sekarang, kompleks makam ini masih berfungsi, dengan jumlah sekitar 11.478 makam

Sejarawan Elfian lewat bukunya mengungkap, pemakaman ini didirikan oleh empat orang yaitu Yap Fo Sun tahun 1972, Chin A Heuw Tahun 1950, Yap Ten Thiam tahun 1944 dan Lim Sui Cian.�

Makam tertua di pekuburan ini adalah makam keluarga Boen Sun Yat Sen yang diperkirakan telah ada pada tahun 1915.�

Bentuk makam yang ada di kompleks ini umumnya besar-besar dan megah.�

Di antara ribuan makam orang-orang Cina yang beragama Konghucu dan beragama Katolik, pada kompleks makam Sentosa juga terdapat dua makam yang beragama Islam.

menemukan, pengalaman, menyusuri pekuburan china terluas se-asia tenggara di pangkalpinang, ada makam senilai rp 500 juta

Makam orang Islam di Pekuburan Sentosa

Makam-makam itu adalah milik Ny. Tjurianty Binti Kusumawidjaya yang lahir tanggal 27 September 1947 dan wafat tanggal 9 Desember 1994.

Sedangkan pada sisi Selatan agak ke Barat di sisi jalan terdapat makam Gunawan Bin Tanda, lahir tanggal 30 Maret 1978 dan wafat tanggal 7 November 2008.

Di sisi lain, dalam buku Kampung Bangka Jilid I dijelaskan bahwa tidak jelas kapan dimulainya tradisi menguburkan mayat dengan menggunakan peti mati dari kayu (kerendak) pada masyarakat Cina di pulau Bangka.

Sebelumnya dalam tradisi mereka, mayat dibakar dan abunya disimpan di dalam tempayan keramik.

Salah satu yang menarik dari Pekuburan Sentosa ialah ditemukan jejak seorang reporter bernama Tjhia Ka Tjong.

Tertulis tempat sang reporter istirahat saat meliput kawasan tersebut pada tahun 1945.

Dilansir dari beberapa sumber, Tjhia Ka Tjong ialah reporter yang melaporkan kegiatan Soekarno saat mempertahankan kemerdekaan ketika diasingkan ke Pulau Bangka.

Ia memotret Soekarno yang naik mobil Plymouth BN 2 dari Pangkal Balam menuju rumah residen Masyarif di Kota Pangkal Pinang saat diasingkan ke Muntok, Bangka Barat.

Dikutip dari buku yang sama, ada sebuah kegiatan paling unik dan luar biasa yang terjadi di kompleks pemakaman Sentosa setiap tanggal 5 April.

Setiap tahunnya, warga Tionghoa yang berasal dari pulau Bangka, pulau Belitung maupun yang ada di perantauan di perbagai daerah dan luar negeri seperti Hongkong, Singapura, bahkan China berdatangan ke kompleks pemakaman Sentosa untuk melaksanakan ritual Ceng Beng.

Pada saat ritual, masyarakat Cina memanjatkan doa kepada leluhur yang meninggal agar mendapat tempat terbaik disisi Sang Pencipta. Ritual biasanya dimulai sejak pukul 02.30 WIB dini hari.

Para peziarah mulai berdatangan ke makam dengan membawa sesajian yang telah disiapkan dari rumah masing-masing di antaranya Sam-sang (tiga jenis daging), Sam kwo (tiga macam buah-buahan) dan Cai choi (makanan vegetarian).

Sebelumnya kuburan diterangi oleh lilin, dibakar hio (garu), dan diletakan kim chin (uang palsu kertas) di atas tanah makam sembari memanjatkan doa agar arwah orang tua dan leluhur mereka tenang di alam baka.

(Bangkapos.com/Nur Ramadhaningtyas)