Berita

Melihat Suasana di Dalam Piramida Agung Giza Mesir Lewat Tur Digital 3D

menemukan, pengalaman, melihat suasana di dalam piramida agung giza mesir lewat tur digital 3d

Suasana saat wisatawan mengunjungi Piramida Agung, dataran tinggi piramida Giza di Giza, Mesir. Foto: Mohamed Abd El Ghany/Reuters

Bagi kamu yang belum kesampaian wisata sejarah ke Mesir buat melihat dan masuk ke dalam Piramida Agung Giza, jangan berkecil hati. Sebab, tur digital 3D bisa mengajak kamu untuk melihat dan menikmati bagaimana suasana dalam Piramida Agung Giza.

Tur Piramida Agung Giza atau dikenal juga Piramida Khufu meliputi penjelajahan tiga ruang interior. Tur dimulai dengan mengajak para pemirsa masuk melalui terowongan yang diyakini dibuat oleh perampok harta karun pada tahun 820 Masehi.

Setelah itu, para penonton dibawa untuk melihat kamar Raja yang berada di puncak Piramida, kamar Ratu yang berada di tengah bangunan, dan kamar bawah tanah yang belum diketahui diperuntukan siapa.

Menurut laporan IFL Science, Piramida Agung Giza adalah salah satu piramida yang terbesar di Mesir, sekaligus menjadi makam Firaun Dinasti Keempat Khufu. Saat ini piramida tersebut menjadi yang tertua di Mesir.

Khufu sendiri memulai pembangunan piramida sekitar tahun 2550 SM. Piramida itu dibangun menggunakan sekitar 2,3 juta batu besar dengan berat masing-masing 2,5 hingga 15 ton, dengan sebanyak 8.000 ton granit diimpor dari Aswan yang jauhnya 800 kilometer dari tempat Piramida dibangun.

Piramida itu dibangun oleh para budak selama bertahun-tahun. Pada 1990-an, para peneliti menemukan bukti di dekat Piramida Khafe dan Menkaure yang menunjukkan bahwa piramida juga sebenarnya dibangun oleh para buruh yang dibayar.

Di kuburan para buruh yang meninggal ditemukan batu bata lumpur yang diisi bir dan roti, bertujuan untuk dibawa ke alam baka. Pemeriksaan jenazah juga menunjukkan para buruh punya pola makan bagus dengan mengonsumsi daging-dagingan. Sementara para budak tidak demikian.

Analisis lebih lanjut dari sisa-sisa pekerja menemukan bahwa mereka telah diberi perawatan medis, dari mulai perawatan patah tulang hingga operasi otak akibat tumor. Salah satu jenazah pekerja juga ditemukan dengan kaki yang diamputasi melalui tindakan operasi.

Ribuan pekerja memindahkan balok-balok batu raksasa itu dengan jarak yang sangat jauh. Mereka menggunakan lembu dan perahu dan menyeret batu menggunakan kereta luncur melalui pasir basah sehingga bisa mengurangi beban kerja dalam membangun Piramida Agung Giza.