Kuliner

Kuliner Wonogiri: Mie Pentil atau Mi Glondong Pasar Wonogiri, Jajanan Legendaris yang Masih Eksis

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Erlangga Bima Sakti�

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI – Kuliner legendaris di Wonogiri ini tetap eksis hingga kini.

Ialah mie pentil, mie yang terbuat dari tepung tapioka atau berbahan singkong.

Mie pentil sendiri dikenal oleh masyarakat dengan sebutan yang berbeda-beda, mulai dari mie glondong dan mie geol.

Di Wonogiri, tak sulit mencari pedagang mie pentil.

Ada sejumlah pedagang keliling yang menjajakan mie pentil, ada juga yang berjualan di Pasar.�

Salah satu penjual mie pentil di Pasar Wonogiri Kota, Parni mengaku sudah bertahun-tahun berjualan mie pentil.

Dia menjual mie buatannya di pintu masuk sebelah selatan.�

“Saya buat mie sendiri di rumah, kemudian saya jual dengan anak saya,”

“Bahan dari tepung singkong,” kata dia, kepada TribunSolo.com, Kamis (10/11/2022).�

Parni mengaku membuat mie pentil setiap hari, dalam sehari dia mengaku bisa menghabiskan lima kilogram singkong.�

Menurut dia, dalam sehari bakmi buatannya harus habis terjual. Untuk berjualan esok harinya, dia harus membuat bakmi lagi sehingga selalu fresh.�

Mie pentil sejatinya biasa dinikmati langsung tanpa tambahan makanan lain.

Tapi biasanya, ada juga mie pentil yang dinikmati bersama pecel dan gendar.�

“Kalau warna kuningnya menggunakan pewarna makanan. Pewarna pakai yang biasanya untuk agar-agar itu,” jelasnya.�

Parni menjual mie pentil buatannya seharga Rp 5 ribu per porsi. Entah itu hanya bakmi saja maupun ditambah dengan pecel maupun gendar, harganya tetap sama.�

Soal rasa, tidak perlu diragukan, tekstur kenyal dari mie pentil buatan Parni sangat terasa.

Lebih nikmat jika disantap menggunakan pecel.�

Salah satu pembeli, Esti Suci mengaku senang dengan mie pentil yang dijual oleh Parni.

Dia menikmati mie pentil yang dicampur dengan pecel.�

“Rasanya enak, kenyal-kenyal juga. Cocok dengan lidah saya,” ujarnya singkat. (*)�