Kuliner

Kisah Pemilik Sambal Bu Rudy yang Legendaris, Berawal dari Jualan Nasi Bungkus

kuliner, kisah pemilik sambal bu rudy yang legendaris, berawal dari jualan nasi bungkus

Lanny Siswadi atau yang lebih dikenal dengan nama Bu Rudy. Foto: Masruroh/Basra

Sambal Bu Rudy cukup dikenal kalangan pecinta kuliner di Surabaya. Bahkan Sambal Bu Rudy selalu menjadi oleh-oleh wajib bagi mereka yang berkunjung ke Surabaya. Namun siapa sangka jika pembuat sambal legendaris tersebut mengawali kesuksesannya dengan berjualan nasi bungkus.

“Saya awalnya jualan nasi bungkus, saya bawa ke tempat gym. Saya jualan di sana,” ujar Lanny Siswadi atau yang lebih dikenal dengan nama Bu Rudy, saat ditemui Basra disela pembukaan depot barunya di kawasan Dharmahusada, Jumat (11/11).

Nasi udang krispi menjadi pilihan Bu Rudy saat berjualan nasi bungkus. Alasannya cukup sederhana, nasi udang krispi tidak akan tumpah jika dibungkus. Selain itu menu udang krispi cukup mudah dibuat.

“Saya bikin udang krispi juga karena ada udang hasil mancing suami dan setiap kali mau makan suami minta dibikinkan sambal, ya sudah saya bikin sambal bawang,” tuturnya.

Nasi bungkus yang dijual Lanny cukup diminati, begitu pula dengan sambal bawangnya. Hanya saja Lanny masih belum berpikir untuk menekuni dunia kuliner secara penuh. Kala itu Lanny hanya berjualan di pagi hari, sedangkan siang harinya Lanny beralih berjualan sepatu di Pasar Turi.

“Waktu itu saya masih ada usaha jualan sepatu di Pasar Turi, jadi nggak kepikiran mau menekuni bisnis kuliner. Saya masak juga awalnya kan permintaan suami,” tukasnya.

Namun saat Pasar Turi dilanda kebakaran hebat pada 2007 menjadi titik balik Lanny. Kebakaran tersebut meluluh lantakkan toko sepatu miliknya. Dari sinilah Lanny mulai memutar otak untuk membuka usaha lain demi menyambung hidup keluarganya.

Dengan mengontrak sebuah bangunan di kawasan Dharmahusada Lanny mulai menjalankan usaha kulinernya. Nama Bu Rudy dipilih Lanny sebagai nama untuk depotnya itu.

“(Rudy) itu nama suami saya. Sebelumnya kan juga banyak yang manggil saya Bu Rudy bukan Lanny. Ya sudah pakai nama (Bu Rudy) itu saja,” kata perempuan berusia 70 tahun ini.

Uniknya, meski terlahir dari keluarga Tionghoa namun Lanny tak tertarik dengan masakan Cina. Masakan Jawa justru dipilih Lanny untuk usaha kulinernya.

“Saya orang Madiun pernah jualan nasi pecel Madiun. Menurut saya masakan Jawa punya cita rasa luar biasa. Saya malah nggak bisa masak masakan Cina karena saya kurang suka juga,” jelasnya.

Menu udang yang digoreng renyah dan gurih dilengkapi sambal bawang menjadi andalan di Depot Bu Rudy. Seiring berjalannya waktu usaha Lanny berkembang pesat. Bahkan saat pandemi bisnis kuliner Lanny tak goyah sedikitpun.

Di masa pandemi tepatnya setahun lalu, Lanny justru mampu membuka pusat oleh-oleh yang menyajikan aneka produk milik UMKM.

“Pusat oleh-oleh ini juga karena saya dan anak saya awalnya iri lihat Bali dan beberapa kota lain punya pusat oleh-oleh yang tempatnya bagus dan barangnya banyak, di Surabaya belum ada tempat yang seperti itu. Akhirnya kita gandeng pelaku UMKM Surabaya, istilahnya kita maju bareng-bareng gitu,” urainya.

Kini pelan tapi pasti Lanny mulai melakukan estafet bisnis kuliner kepada buah hatinya. Lanny bersyukur anak-anaknya tak menolak permintaan Lanny mengelola bisnis kulinernya.

“Sejak kecil mereka tahu bagaimana perjuangan saya dan bisa bertahan 17 tahun usaha kuliner ini. Kalau bukan mereka lalu siapa yang akan meneruskannya?” tandas ibu 4 anak ini.

Meski telah memiliki 80 karyawan, Lanny mengaku masih menyempatkan diri turun ke dapur. Baginya menjaga kualitas makanan sangat penting.

“Turun ke dapur untuk ngecek. Sudah menjadi komitmen saya untuk selalu menjaga kualitas makanan agar tidak sampai mengecewakan pelanggan,” tegasnya.

Lanny lantas berpesan kepada masyarakat yang ingin menekuni bisnis kuliner, untuk tak ragu melangkah.

“Mulai dari yang kecil dulu, misalnya jualan gorengan, besok gorengannya ditambahi yang tadinya hanya ada dadar jagung berikutnya coba ditambahi menu gorengannya, bisa tambah pisang goreng atau tahu goreng. Kalau kita tekun dan telaten, hasilnya pasti tidak akan mengecewakan,” simpulnya.