Menemukan

Kemegahan Bendungan Sampean Baru Bondowoso

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Bondowoso menjadi salah satu kabupaten yang tidak memiliki lautan di Jatim. Meski tidak ada lautan, ternyata di daerah yang dijuluki kota tape ini justru memiliki bangunan pengendalian air. Yaitu Bendungan Sampean Baru.

Bangunan bendungan yang megah ini, tentu saja menjadi alternatif tempat wisata di Bondowoso. Sehingga, berwisata ke Bondowoso tidak hanya menikmati Kawah Ijen saja, tapi bisa mampir ke Bendungan Sampean Baru.

menemukan, pengalaman, kemegahan bendungan sampean baru bondowoso

Menuju ke bendungan yang berada di Kecamatan Tapen ini cukup mudah. Karena, dekat dengan jalan raya utama Bondowoso – Situbondo. Bila mengendarai kendaraan roda dua butuh waktu sekitar 30 menit dari Alun-Alun Bondowoso atau berjarak sekitar 20 kilometer. Sementara dari pusat Kota Situbondo waktu tempuhnya juga sama sekitar 35 menit.

Bendungan Sampean Baru merupakan penampung air dari beberapa aliran sungai di Bondowoso. Luas bendungan ini sekitar 10 hektar.

Bendungan Sampean Baru, dibangun sejak tahun 1975. Pembangunan selesai dibuat dan diresmikan pada tahun 1984.

Pengelola Bendungan Sampean Baru, Hardiono mengatakan, air yang mengalir dari seluruh aliran sungai di Bondowoso ini bermuara di bendungan. Untuk mengendalikan air tersebut, terdapat tujuh pintu. “Satu pintu di tengah adalah pintu tekstil. Sementara tiga di samping kanan dan kirinya adalah pintu radial,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Ijen, kemarin.

Menurut Dio, pembuatan pintu besar tersebut tidak dilakukan di Indonesia. Melainkan dibuat di luar negeri, seperti Jepang dan China. Saat debit air tinggi, beberapa pintu tersebut akan dibuka. “Dibukanya pintu bendungan saat debit air tinggi. Untuk menormalkan arus air,” urainya.

Dio menambahkan, ternyata ada dua cara untuk membuka pintu tersebut. Pertama dilakukan secara manual, kedua dibuka melalui bantuan mesin yang sudah ada. “Kalau dibuka melalui manual lebih sulit. Sekarang sudah ada mesinnya, jadinya lebih mudah,” ulasnya.

Selain itu, Dio mengatakan, pengelolaan Bendungan Sampean Baru sudah mencapai generasi ke dua. Dirinya bersama teman-teman pengelola lainnya menjadi generasi ke dua dalam mengelola bendungan ini. Sementara pengolah pertama sudah pensiun. “Kami dan kawan-kawan di sini sudah pengelola periode ke dua,” pungkasnya. (aln/dwi)