Kuliner

Keluhan UMKM: Beli Ikan Marlin Berkualitas Harus Punya Orang Dalam di Benoa

Suara.com – Suara Denpasar – Ada yang menarik terungkap dalam diskusi Caffetalk Pesta UMKM “Apa Kabar Kita” di Denpasar pada Sabtu (19/11/2022).

Yakni pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mengeluhkan akses terhadap bahan baku selain persoalan klasik sulitnya permodalan.

Seperti diungkapkan Komang Mertana, pelaku usaha kuliner ini mengatakan salah satu tantangan yang dihadapi adalah kesulitan mendapatkan bahan baku ikan marlin yang berkualitas.

Jika tidak mengenal orang dalam di Pelabuhan Benoa yang menjadi sentra ikan ekspor, maka bahan baku sulit di dapat.

Sebab, ikan berkualitas semuanya ditujukan untuk pasar ekspor.

“Kalau tidak punya orang dalam di Benoa sulit kita dapat bahan baku yang bagus. Apalagi banyak ikan bagus kita justru dieksport keluar, setelah diolah dijual kembali ke Indonesia,” kata pelaku usaha sate marlin tersebut.

Senada juga diungkapkan Yon Gondrong dari Paguyuban Bunga Dewata. Dia juga menyoroti minimnya peran pemerintah untuk memunculkan produk tanaman hias berkualitas seperti yang dilakukan Thailand.

Padahal, pasar dalam negeri begitu terbuka. Namun, produk yang diinginkan konsumen semuanya ada di Thailand.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara debtWATCH Indonesia Arimbi Heraputri mengatakan akar masalahnya adalah adalah saat ini Indonesia diesain sebagai pasar produk-produk internasional.

Beras dan gandum misalnya. Gandum tidak tumbuh di Indonesia tapi dipaksa agar diimport. Paling tragis adalah beras dan buah.

Padahal Indonesia sebagai penghasil beras malah import beras dari negara lain. “Dalam setiap pri-kehidupan kita tergantung pada produk import.

Mulai dari dalam kandungan sudah minum susu formula import,” kata Bimbi.

Karena itu menurutnya untuk menghadapi hal ini bisa dimulai dari diri sendiri di lingkungan terdekat.

Baik itu dengan menanam sendiri atau mengkonsumsi pangan lokal.

Sus formula mahal dr perut sampai mati tergantung produk internasional n jadi pasar.

“Solusinya adalah mandiri dan swadaya. Dalam level kampung atau rumah tangga mengurangi yang tidak penting.

Misalnya makanan bayi cukup dengan ASI Artinya bisa mulai dari lingkungan terdekat,” ucap Bimbi. ***