Kuliner

Joysicles, UMKM Es Krim Loli Cita Rasa Lokal yang Siap Rambah Pasar Ekspor

kuliner, joysicles, umkm es krim loli cita rasa lokal yang siap rambah pasar ekspor

Joysicles, produk es krim stik bercita rasa lokal. Foto: Azalia Amadea/Kumparan

Pasar es krim di Indonesia selama ini didominasi oleh produk luar negeri. Sehingga tak banyak masyarakat yang tahu bahwa sebetulnya, Indonesia juga memiliki brand es krim lokal dengan cita rasa yang tak kalah dengan produk luar negeri. Sebut saja, Joysicles.

UMKM es krim loli ini merupakan buah usaha dari Ruben Alexandro (CEO Joysicles) dan Fazal Muhammad (COO Joysicle) yang mencoba mendekonstruksi ‘makanan penutup tradisional Indonesia’ dalam bentuk popsicles atau yang juga dikenal dengan es krim stik.

Berdasarkan kompetensi kuliner dan keahlian salah satu founder-nya, yakni Fazal yang memiliki latar belakang pendidikan Baking Pastry & Manajemen Seni kuliner di The Sages Institute, Surabaya. Dia juga pernah mengenyam sejumlah pengalaman di industri kuliner; yakni bekerja di restoran ternama seperti Buddha Bar Dubai, dan dua restoran berbintang michelin-Rodhes W1 by Gary Rhodes serta Indego by Veneet Bhatia. Singkat cerita, lantaran pandemi COVID-19 yang melanda banyak negara, membuatnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Dia pun berkolaborasi dengan partner bisnisnya, Ruben, dengan latar belakang pendidikan hubungan internasional di Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Serta, memiliki pengalaman bekerja dan networking di sektor pemerintahan, seperti Kementerian Luar Negeri RI dan berbagai perusahaan di sektor swasta.

kuliner, joysicles, umkm es krim loli cita rasa lokal yang siap rambah pasar ekspor

Joysicles Pemenang Kategori Brand Culinary Terbaik Festival UMKM kumparan 2022. Foto: Dok. Joysicles

Fazal dan Ruben kemudian memiliki ide untuk membangun bisnis kuliner mereka. Dengan menciptakan es krim stik berbalut cita rasa kuliner penutup khas Indonesia, dan memiliki mimpi dapat mengekspor produknya ke dunia.

Keresahan para founder akan merek es krim lokal yang kurang diminati, turut membawa Joysicles melebarkan sayap tak hanya di Jakarta, namun juga di Bali, dan telah menerima pemesanan untuk beberapa kota besar lain di Indonesia.

Untuk mengungkap cerita selengkapnya dari UMKM es krim lokal, Joysicles mulai dari latar belakang bisnis hingga kesuksesan yang diraih, berikut hasil wawancara kumparan pada Kamis (20/10), dalam questions and answer (Q&A) di bawah ini:

1. Boleh dijelaskan bagaimana awal cerita membangun usaha ini?

Ide ini muncul dari sebuah perbincangan yang justru berubah menjadi kenyataan. Kami mulai perencanaan di akhir November 2021, dan mengejar target untuk launching di 2-2-2022, dengan kondisi harus mempersiapkan semua dari Nol, baik design packaging, social media, RnD product, pembuatan PT dan masih banyak lagi.

Namun oleh karena semangat dan bantuan dari kawan maupun keluarga, akhirnya pada tanggal tersebut, brand Joysicles dapat di-launching untuk pertama kalinya, dan tanggal 10 Maret, kami membuka cabang offline store di Gading Festival, Sedayu City Kelapa Gading.

2. Mengapa memilih produk es krim untuk dijadikan sebuah usaha?

Joysicles sendiri dibangun atas dasar kompetensi kuliner dan keahlian salah satu founder kami, yaitu Fazal Muhammad (COO Joysicle) yang berpengalaman di bidang kuliner, yaitu Lulusan Sages Culinary Institute dan pernah bekerja di Dubai, Buddha Bar, W1 by Gary Rhodes, Indigo by Veneet Bhatia namun dikarenakan COVID, akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Oleh sebab itu, muncullah ide untuk mengeluarkan produk Joysicles, kami percaya bahwa es krim ini dapat memiliki masa depan untuk dapat di ekspor dan mengenalkan cita rasa  indonesia untuk dunia.

3. Adakah cerita atau arti di balik nama brand Joysicles?

Yaa se-simple, joy (artinya) bahagia, sicles dari popsicles, yaitu es krim stik, jika digabung menjadi ‘Joysicles’ (artinya) es krim stik penuh kebahagiaan.

kuliner, joysicles, umkm es krim loli cita rasa lokal yang siap rambah pasar ekspor

Joysicles, produk es krim stik bercita rasa lokal. Foto: Azalia Amadea/Kumparan

4. Bagaimana proses menjalankan usaha ini saat awal memulai hingga sekarang? Apa saja tantangan yang dihadapi?

Banyak sekali tantangan yang dilalui, tentu ada ups and down dikarenakan market yang terus berubah, SDM yang kurang memadai (harus lebih sabar dalam meng-handle SDM di era sekarang), pergerakan algorithm sosial media yang berubah-ubah, banyak sekali tantangan yang dihadapi, namun kami berpegang teguh bahwa jika produknya memang enak, orang akan tahu sendiri value dari produk tersebut, dan tugas kami hanya meyakinkan customer baru untuk mau mencoba produk kami.

Kami sendiri berharap bahwa Joysicles dapat terus diterima di masyarakat, dengan seluruh pergerakan di market yang sangat tidak pasti seperti sekarang dan ke depannya.

5. Bagaimana strategi pemasaran yang diterapkan?

Tentu saja, seperti basic saja, brand awareness kami lakukan, melalui social media team dan advertising ads, kami mencoba melakukan pemasaran full melalui online, khususnya Instagram dikarenakan market kami yang ‘premium’ dirasa tepat untuk melakukan promosi pada platform tersebut.

6. Apa saja platform digital yang digunakan untuk memasarkan produk?

Instagram, Tiktok, Facebook, LinkedIn, (dan) YouTube shorts

7. Terkait produksi, seperti apa gambaran penggunaan bahan baku lokal dalam produksi ini?

Kami semaksimal mungkin menggunakan produk dalam negeri dalam pembuatan produk kami. Pada rasa strawberry hills dan mango sweet scents kami menggunakan stroberi dan mangga harum manis dari distributor buah lokal (petani lokal) berikut dengan topping kelapa muda, gula jawa, semua kami ambil melalui distributor lokal.

8. Pihak-pihak mana saja yang terlibat dengan aktivitas usaha ini?

Yang terlibat tentu kami sendiri, dukungan keluarga, agen/reseller kami, karyawan dan team yang mendukung hingga saat ini.

9. Sejauh mana usaha ini berdampak pada supplier bahan baku? Mungkin ada cerita menarik dari supplier yang berkolaborasi bersama?

Untuk kolaborasi tidak yang bagaimana sekali, karena kami juga masih berskala kecil, kami hanya mencoba untuk berkomunikasi dengan baik agar bahan baku yang dikirimkan selalu dalam kondisi baik dan berkualitas.

kuliner, joysicles, umkm es krim loli cita rasa lokal yang siap rambah pasar ekspor

Joysicles, produk es krim stik bercita rasa lokal. Foto: Azalia Amadea/Kumparan

10. Bagaimana dengan masyarakat, sejauh mana usaha ini berdampak kepada masyarakat?

Pasar kami perlahan mulai diterima masyarakat, sudah banyak ibu-ibu maupun pegawai kantor yang membeli produk kami, dan tersebar secara rata di Jakarta.

Beberapa juga melakukan reselling kepada komunitas kecil yang ada di sekeliling mereka, saya rasa ini menjadi bisnis sampingan untuk para ibu-ibu untuk mendapatkan tambahan penghasilan lewat reselling produk kami.

11. Berapa karyawan yang dimiliki sejak awal mulai sampai sekarang?

Kami berawal dari dua orang saja, dan saat ini sudah perlahan berkembang menjadi enam orang, dan lima team marketing (outsource), dua team finance (oursource).

12. Produk apa yang menjadi best seller?

Produk best selling kami di (varian) java vanilla dan burnt chocolate.

13. Berapa range harga dari produk-produk Joysicles? Apakah pernah mengalami perubahan dari awal hingga sekarang?

Range harga kami di Rp 22 ribu per pcs.

14. Berapa produk yang terjual per bulannya?

Average sales kami jika di rata-rata saja, sekitar 1.100-1.200 pcs per bulan.

15. Produknya dijual di kota mana saja?

Saat ini sudah bisa ditemukan di Bali dan Jakarta. Namun dapat dikirimkan menggunakan Paxel ke kota besar via Jakarta.

16. Apakah sudah ekspor? Kalau sudah, ke mana saja?

Saat ini belum.

18. Terakhir, apa impian atau rencana dari Joysicles ke depannya?

Kami sendiri berharap bahwa Joysicles sendiri dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, mungkin didukung dengan adanya investasi untuk bisa mengembangkan potensi di jenis es krim lainnya, dan dapat melakukan ekspor ke berbagai negara agar dapat mengenalkan cita rasa asli Indonesia kepada dunia.

Malu melihat pasar es krim di indonesia dikuasai produk luar negeri (brand asal luar), namun jarang sekali produk Indonesia dapat di ekspor dan diterima oleh market global, sudah saatnya Indonesia memiliki produk berkualitas yang bisa diterima dunia.