Otomotif

Jelang Uji Coba Mobil Terbang di IKN Tahun 2024, Pengamat Ingatkan Aspek Keselamatan hingga Keamanan

Otomotif

TRIBUNKALTIM.CO – Jelang uji coba mobil terbang di IKN Nusantara Kalimantan Timur (Kaltim) tahun 2024, pengamat mengingatkan Pemerintah terkait aspek keamanan dan keselamatan.�

Sebelumnya, Pemerintah telah mengungkap rencana uji coba mobil terbang bertenaga listrik di IKN Nusantara Kaltim tahun 2024.

Uji coba mobil terbang bertenaga listrik di IKN Nusantara Kaltim ini sebagai bentuk penciptaan suatu kota yang cerdas (smart city) dan ramah lingkungan.

Rencana mobil terbang di IKN Nusantara Kaltim ini disampaikan�Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Prof. Mohammed Ali Berawi.

Untuk proyek mobil terbang di IKN Nusantara Kaltim ini, Otorita IKN telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) antara OIKN dan Hyundai Motor Group tentang kerja sama membangun ekosistem mobilitas cerdas Advanced Air Mobility (AAM) di Indonesia, beberapa waktu lalu.

Rencana mobil terbang ini menunjukkan bahwa industri otomotif Indonesia akan segera memasuki era baru yang progresif, karena secara langsung maupun tidak langsung membuka pintu gerbang era mobilitas cerdas di Tanah Air.

Terkait dengan rencana mobil terbang di IKN Nusantara tersebut, pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Pasaribu menyatakan mobilitas cerdas, dalam hal ini mobil terbang, adalah langkah besar dalam evolusi transportasi sipil.

“Jenis kendaraan ini akan berkembang pesat menjadi salah satu model bisnis baru yang siap untuk menerbangkan orang ke langit.

Khususnya pada wilayah perkotaan yang sudah sangat padat transportasi daratnya,” kata dia dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/12/2022) seperti dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com.�

Gagasan ambisius kendaraan mobil terbang sangat prospektif dalam konteks tahapan awal penyiapan IKN.

Sebab, di samping harganya yang diperkirakan lebih terjangkau jika dibandingkan dengan sebuah helikopter, moda transportasi udara ini akan lebih mudah mengakses daerah-daerah dengan infrastruktur jalan yang belum memadai.

Meski demikian, untuk merealisasikannya pemerintah memiliki pekerjaan rumah dalam hal aturan-aturan yang mengikat seperti mengenai sertifikasi aspek keselamatan dan keamanan dari mobil terbang.

Mengingat, semakin banyak sistem elektronik pada sebuah mobil terbang, semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya kesalahan logika atau kegagalan daya angkat yang bisa berkembang menjadi kegagalan sistem sehingga menyebabkan kecelakaan.

“Maka sertifikasi aspek keselamatan dan keamanan mobil terbang menjadi wajib hukumnya.

Pengembangan kerangka hukum mobil terbang yang menyerupai drone dan dapat mengangkut manusia juga perlu disiapkan, baik sebagai kendaraan terbang privat maupun untuk taksi udara,” ucap Yannes.

Selain itu, perlu pula persiapan serius pada infrastruktur jejaring IT di wilayah yang kompleks untuk dapat memitigasi kemungkinan peningkatan terjadinya tabrakan di udara akibat semakin banyaknya lalulintas kendaraan terbang yang bergerak dalam tiga dimensi.

Hal lainnya yang perlu disiapkan adalah infrastruktur sistem grid untuk pengisian daya dan stasiun pengisian baterai, serta sertifikasi dan persyaratan pengujian yang ketat, mengikuti standar konvensi internasional kelaikan dan keamanan penerbangan.

Tak kalah penting, aspek keamanan siber juga perlu diperhatikan.

Mobil terbang akan otonom, berbasis komputerisasi, dan terhubung ke jaringan terenkripsi untuk keperluan navigasi.

“Untuk itu, diperlukan sistem perlindungan yang bisa memproteksi mobil terbang dari kejahatan siber,” tambah dia.

Dilansir dari Kompas.com, PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) berencana untuk mengembangkan teknologi mobil terbang atau Advance Air Mobility (AAM) sebagai upaya meningkatkan pengalaman atas mobilitas yang canggih, ramah lingkungan, dan terintegrasi di Ibu Kota Negara (IKN).

Langkah tersebut dilakukan dengan berkerja sama dengan Badan Otorita IKN Nusantara bersama divisi di Hyundai Motor Company.

Menurut General Manager Marketing Department HMID Astrid Ariani Wijana, transportasi modern itu khusus untuk dioperasikan di IKN.

Namun belum dikatakan secara pasti untuk waktunya.

“Ini bukan sekadar bikin mobil, Advanced Air Mobility adalah salah satu bentuk transportasi orang berbasis udara yang dimiliki Hyundai,” kata Astrid di Jakarta, Kamis (24/11/2022).

Saat ini, lanjut dia, pihak Hyundai sedang melakukan riset mobil otonom terbang terkait.

Sebab banyak aspek yang harus diperhitungkan apalagi Indonesia belum memiliki suatu regulasi atau kebijakan tentangnya.

“Banyak yang harus dipersiapkan sebelum mencapai ke arah sana,” kata dia.

Riset Mobil Terbang

Sebelumnya, Otorita IKN Nusantara telah menandatangani nota kesepahaman dengan Hyundai Motor Company dan LG CNS untuk mendirikan pusat Research and Development AAM di IKN Nusantara di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Bali.

Pusat riset itu sekaligus bakal menjadikan IKN sebagai pusat pengembangan industri AAM di Asia Tenggara.

Kerjasama LG CNS dan Otorita IKN pun akan mengembangkan IKN sebagai kota cerdas (smart city) dan pembangunan ekonomi hijau di Indonesia.

“Tujuan kita membentuk AAM untuk menciptakan suatu kendaraan yang aman, mudah diakses, terjangkau, dan otomatis.

Ini sangat baik untuk kualitas hidup di masa depan,” kata Presiden Hyundai Motor Groups, Advanced Air Mobility Division.

“Kerja sama kita bersama pemerintah Indonesia untuk memberikan kehidupan lebih baik untuk Indonesia,” lanjutnya.

(*)