Kuliner

Ekky Puji Lestari, Perajin Aneka “Hidangan” dari Bahan Lilin

kuliner, ekky puji lestari, perajin aneka “hidangan” dari bahan lilin

Ekky Puji Lestari, Perajin Aneka “Hidangan” dari Bahan Lilin

RADARSOLO.ID – Siapa yang tidak kenal lilin. Biasanya, kita menyalakan benda ini apabila listrik di rumah padam sebagai penerang. Nah, ternyata dengan sentuhan kreativitas lilin juga bisa dibuat aneka hiasan unik.

A. CHRISTIAN, Solo, Radar Solo

Beberapa makanan tampak tersusun di meja dengan rapi di etalase di sebuah garasi rumah yang beralamat di Kampung Gabundan, RT 03 RW 08, Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon. Berbagai makanan tersedia, mulai dari es krim, sate, bolu gulung dan beberapa makanan lainnya yang sekilas menggugah selera.

Namun, jangan terkecoh. Rupanya, itu adalah makanan imitasi yang semuanya terbuat dari lilin. Ya, handycraft ini merupakan karya dari Ekky Puji Lestari. Sudah puluhan tahun dia menjalankan bisnis kerajinan ini. Tidak hanya berorientasi untuk untuk bisnis pribadi, namun juga memberdayakan masyarakat sekitar.

Ekky memulai bisnis pembuatan lilin ini sejak 2001. Berawal dari iseng ingin membuat souvenir untuk pernikahan dirinya sendiri. “Dari situ saya cari artikel di majalah, apa saja bahan lilin itu. Setelah dapat saya buat dan berhasil. Eh setelah saya nikah, ternyata banyak orderan, saya lanjutkan. Titip di toko-toko souvenir,” ujar Ekky.

Tetapi, usahanya ini sempat berhenti saat Ekky mengandung anak pertama. Kemudian dia juga sempat bekerja sebagai staf administrasi di salah satu pabrik garmen. Saat sang anak beranjak masuk SD, dia kerap protes karena Ekky jarang ada di rumah karena bekerja. Sehingga perempuan kelahiran Solo 27 Oktober 1974 ini memutuskan keluar dari pekerjaannya

“Karena sudah kenal dunia kerja, diam di rumah itu kok ada yang aneh. Akhirnya saya keliling, lihat-lihat toko souvernir yang dulu saya titipi lilin. Ternyata sejak saya berhenti buat tidak ada souvenir lilin lagi. Saya pikir, ini kebetulan. Dari pada saya diam saja di rumah kenapa tidak saya buat lagi lilinnya,” urai Ekky.

Hingga akhirnya pada 4 Februari 2010 dia kembali ke usaha lamanya tersebut. Dia pun mengajak sejumlah ibu rumah tangga di sekitar rumahnya untuk ikut membuat kerajinan lilin souvenir dan lilin aroma terapi.

Sebelum pandemi dia memiliki 10 orang pegawai. Bahkan sampai menyewa rumah, khusus untuk lokasi produksi dan showroom, tetapi kala virus Covid-19 merebak, usahanya ikut rontok. Kini tinggal dua orang yang dia ajak bekerja. Itupun ketika orderannya mulai banyak.

“Sebelum pandemi dulu, minim keuntungan saya bisa sampai Rp 15 juta. Sekarang bisa masuk Rp 5 juta saja sudah bersyukur. Lha gimana, wong sasaran saya kan souvenir nikahan. Padahal selama pandemi itu sama sekali tidak ada acara hajatan. Jadi ikut terdampak,” tutur Ekky

Soal bahan, lanjut Ekky, dia tidak memilih bahan lilin yang biasa dijual di pasaran. Tapi memakai racikan dari campuran kelapa sawit dan soy wax atau minyak kedelai serta aroma terapi. sehingga tidak menimbulkan asap ketika dinyalakan. Untuk bahan baku, tidak sulit dicari di Kota Solo. Namun ada juga pemesan yang menginginkan bahan-bahan yang premium, sehingga dia harus impor dari Taiwan.

Bahan-bahan ini dicampur dengan takaran yang sudah ditentukan. Kemudian direbus dengan api kecil. Dimasukkan ke suatu tempat kemudian dikasih sumbu dan tinggal ditunggu sampai dingin.

“Sambil buat ini sambil terus belajar. Sampai mendapat takaran yang pas saya butuh dua bulan. Dari pesanan yang didapat, ada kesalahan terus ketemu solusinya,” papar Ekky.

Lalu, bagaimana dengan dummy makanan berbahan lilin? Ekky menjelaskan, memulai membuat replika ini setelah ada panitia dari acara festival makanan tingkat nasional. Di mana panitia itu bertanya apakah Ekky bisa membuat replika makanan dari lilin. Saat itu, panitia event tersebut menunjukkan contoh gambar replika makan berbahan lilin yang dibuat di Jepang.

Tak perlu berpikir lama, Ekky langsung menyanggupi tantangan tersebut. Namun dia meminta waktu beberapa hari. Setelah replika tersebut jadi, dia lantas menghubungi pihak panitia. Ternyata pihak panitia sangat takjub dengan replika makanan buatannya karena dari segi tekstur dan warna sangat mirip dengan makanan aslinya.

Dari situ, Ekky mendapat peluang bisnis baru, yaitu membuat replika makanan berbahan dasar lilin. Untuk teknik pembuatan hampir sama dengan lilin yang biasa dia buat. Hanya saja proses finishing-nya yang berbeda.

“Untuk mencetaknya kalau seperi bentuk bolu, kue kering, ini tinggal saya masukin cetakan kue yang sudah ada. Kalau untuk bentuk seperti sosis, martabak, bakso, mi goreng, es krim ini ya pakai tangan. Jadi sebelum benar-benar benar dingin, harus segera dicetak pakai tangan. Ya panas, tapi karena sudah terbiasa jadi tidak terasa,” kelakar Ekky.

Setelah lilin keras, barulah dia memulai proses pewarnaan. Biasanya ini butuh dua sampai tiga kali menggunakan cat minyak hingga warna yang dihasilkan sesuai dengan makanan aslinya. Dia sempat bereksperimen menggunakan cat tekstil, namun hasilnya malah jelek.

Istimewanya, dummy buatanya ini dari segi warna, tekstur, bahkan ukuran sama dengan makanan aslinya. Sehingga sekilas, bila orang tidak tahu kalau itu lilin pasti mengira itu makanan asli.

Pemesan biasanya datang dari mereka yang memiliki usaha rumah makan atau perhotelan sebagai pemanis ornamen di lokasi usaha mereka. Untuk harga jual dibanderol dari harga Rp 200 ribu hingga Rp 800 ribu. Tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.

Mereka yang datang hampir dari seluruh Indonesia. Bahkan, Eki bahkan pernah menerima pesanan dari Malaysia. Namun, karena takut jika barang tersebut rusak saat pengiriman, beberapa kali pelanggannya datang langsung ke kediamannya. (*/bun)