Otomotif

Duda dan 4 Anaknya di Lampung Selatan Tinggal di Rumah Nyaris Roboh, Berharap Bantuan

Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan-�Ahyuni merupakan duda 50 tahun yang seorang diri mengurus empat anak.

Ahyuni bersama empat anak tinggal di rumah reyot wilayah Desa Pardasuka, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan.

Meskipun rumahnya nyaris roboh, warga Lampung Selatan tersebut bersama anak-anaknya masih bertahan di bangunan non permanen itu sebagai tempat berlindung dan istirahat.

Rumah Ahyuni berupa bangunan non permanen ukuran 4 meter x 4 meter.

Rumah tersebut berkerangka kayu dan berdinding geribik, sedangkan lantainya berupa tanah.

Tidak ada perabotan yang berharga di dalam rumah Ahyuni selain dipan kayu yang di atasnya terbentang tikar.

Dipan tersebut sebagai satu-satunya tempat Ahyuni dan empat anaknya untuk beristirahat.

Ahyuni tetap bertahan di rumah yang sudah nyaris roboh tersebut karena tidak ada lagi tempat lain bagi mereka untuk hidup.

Ahyuni mengaku punya keinginan untuk membetulkan rumahnya yang sudah cukup membahayakan itu.

Namun apa daya, keterbatasan Ahyuni membuatnya tetap bertahan dengan kondisi rumahnya yang sekarang.

Ahyuni kesehariannya hanya sebagai seorang buruh serabutan.

Uang yang dihasilkan terkadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan.

Sebab setiap hari tidak ada yang menggunakan jasanya sebagai buruh serabutan. Terkadang kerja dan terkadang tidak.

“Kerja serabutan sebagai kuli bangunan. Kadang ada kerjaan, kadang nggak. Lebih sering nggak ada kerjaan,” kata Ahyuni, Minggu (11/12/2022).

Oleh karena itu lah, untuk membuat rumahnya lebih bertahan lama, Ahyuni hanya menopangnya dengan kayu supaya tidak cepat roboh.

Sebab material rumah yang terbuat dari kayu sudah mulai rapuh termakan usia.

Sehingga untuk menahan agar rumah tetap berdiri, Ahyuni hanya menopangkan kayu sebagai penahan atap bangunan.

Ahyuni berharap Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dapat memberikan bantuan bedah rumah.

Terlebih kata Ahyuni, dirinya jarang sekali mendapat bantuan dari pemerintah.

“Kalau BLT tidak dapat. Bantuan PKH pernah dapat, tapi sudah 3 tahun lalu. Kalau sekarang tidak dapat,” katanya.

Saat ini, dirinya hanya berharap ada bantuan baik dari relawan maupun pemerintah untuk membedah rumahnya.

(�Tribunlampung.co.id�/ Dominius Desmantri Barus )