Otomotif

Diversifikasi Teknologi Kunci Capai Target Netral Karbon

otomotif, diversifikasi teknologi kunci capai target netral karbon

Logo mobil listrik Toyota. Foto: Auto Express

Hadirnya mobil listrik Toyota bZ4X di beberapa negara, termasuk di Indonesia tentu menimbulkan pertanyaan, apakah Toyota juga akan sepenuhnya meninggalkan mobil dengan mesin pembakar internal (ICE)?

Toyota secara global dikenal memiliki cara yang cukup unik dalam mencapai target netralitas karbon atau net zero emission. Tak seperti beberapa pabrikan lain yang memutuskan untuk langsung beralih ke mobil listrik dalam beberapa tahun ke depan, Toyota lebih memilih memperkenalkan strategi Multi-Pathway.

Cara ini menyediakan berbagai macam teknologi yang menawarkan mobil rendah emisi yang disesuaikan dengan setiap kondisi beberapa negara mulai dari jenis Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid EV (PHEV), Battery EV (BEV), Fuel Cell EV (FCEV), bahkan Internal Combustion Engine (ICE) dan Flexy Fuel Vehicle.

Artinya, mobil-mobil ICE lansiran Toyota tidak serta merta musnah begitu saja ke depannya, termasuk di Indonesia. Jenama asal Jepang tersebut meyakini, semua konsumen dapat berkontribusi mengurangi emisi karbon dengan menggunakan berbagai macam teknologi yang ditawarkan oleh Toyota ke depannya.

otomotif, diversifikasi teknologi kunci capai target netral karbon

Deretan mobil hybrid Toyota Indonesia. Foto: dok. Istimewa

“Even dengan ICE (mobil mesin bakar), kita juga bekerja sama dengan Pertamina untuk penggunaan bio fuel, solar dan bio 40 kami sudah ready dan tadi juga sudah disampaikan ada yang lainnya seperti hybrid, PHEV, dan BEV,” ujar Direktur Production Engineering & Vehicle Manufacturing PT Toyota Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto saat Rapat Dengar Pendapat antara Komisi VII DPR RI dengan Dirjen Ilmate Kementerian Perindustrian.

Dalam pemaparannya, Toyota telah membagi tiga klasifikasi berdasarkan jenis teknologi yang ada untuk mencapai target net zero emission. Di pucuk ada FCEV dan BEV sebagai ‘frontier’ atau garis terdepan untuk produk elektrifikasi masa depan mereka.

Sementara, jenis PHEV/HEV dan ICE/Flexy yang berada di bawahnya sebagai ‘fuel-saver’ dengan mengonsumsi bahan bakar ramah lingkungan yang lebih sedikit, tujuannya untuk lebih mudah merambah pasar yang lebih luas. Ketiganya sama-sama dirancang untuk mencapai net zero emission.

Lebih lanjut, semua jenis mobil elektrifikasi Toyota setidaknya memiliki komponen utama yang serupa yakni T/A with Motor, Baterai, dan Inverter (Power Control Unit). Ketiga komponen tersebut selanjutnya dikombinasikan dengan komponen lain sesuai dengan jenisnya.

otomotif, diversifikasi teknologi kunci capai target netral karbon

Jajaran mobil listrik konsep Toyota dalam keluarga bZ. Foto: dok. Toyota

Misalnya Hybrid Electric Vehicle (HEV) terdiri dari tiga komponen yang dipadukan dengan mesin pembakar internal atau Plug-in Hybrid EV (PHEV) memadukan tiga komponen tersebut dengan mesin pembakar internal dan charging. Begitu juga dengan jenis lainnya yang detailnya bisa dilihat pada gambar berikut.

Dari aspek produksi, pembuatan mobil elektrifikasi Toyota bisa dilakukan dengan cepat karena masih ada beberapa komponen serupa yang digunakan pada mobil-mobil ICE. TMMIN pun sudah menyatakan kesiapannya untuk memproduksi mobil hybrid Toyota secara lokal.

Dengan begitu, harapannya harga mobil elektrifikasi Toyota dapat terjangkau dan semua lapisan masyarakat dapat menikmati mobil rendah emisi dari Toyota.

“Nanti di model yang kami punya akan tersedia (varian) hybrid karena market di Indonesia itu paling besar adalah entry level, sehingga kami ingin untuk yang entry pun punya pilihan elektrifikasi,” jelas Nandi.

Mobil listrik bukan satu-satunya solusi melawan karbon

otomotif, diversifikasi teknologi kunci capai target netral karbon

Presiden Toyota Motor Corporation, Akio Toyoda di Tokyo Motor Show 2019 Foto: Haikal Pasya/kumparan

Sebelumnya, Presiden Direktur Toyota Motor Company (TMC), Akio Toyoda pernah mengungkapkan, memperbanyak mobil listrik bukanlah sebuah solusi yang ampuh bila ingin mengejar netralitas karbon.

“Dalam mengejar netralitas karbon, karbon adalah musuh besar kita, bukan mesin pembakaran internal. Untuk mengurangi karbon, saya rasa harus ada solusi yang praktis dan berkelanjutan yang sesuai dengan kondisi setiap negara,” ujar Akio Toyoda.

Akio menyebut, penggunaan mobil hybrid bisa menjadi salah satu upaya yang bisa dipertimbangkan, mengingat teknologinya semakin baik dan harganya masih terjangkau.

“Apa yang harus kita lakukan beberapa tahun ke depan yaitu memanfaatkan perkembangan teknologi yang sudah kita kembangkan dan mengambil langkah untuk mengurangi karbon dioksida menggunakan kendaraan ramah lingkungan yang kita miliki saat ini,” tutur Akio Toyoda.

***