Berita

Dhio Sempat Telepon ART Minta Pertolongan, Agus Semula Tak Curiga Keponakannya itu Racuni Sekeluarga

TRIBUNNEWS.COM, MAGELANG – Satu keluarga yang terdiri dari AA (ayah), HR (ibu) dan DK (anak), warga di Jalan Sudiro, No.2, Gang Durian, RT10/RW1, Dusun Prajenan, Desa Mertoyudan, Kabupaten Magelang tewas di tangan anaknya sendiri, DDS.

DDS alis Dhio adalah anak kedua korban AA dan HR sekaligus adik kandung dari korban DK.

Kakak laki-laki dari korban Heri Riyani (HR), Agus Sutiarso tak menyangka keponakannya itu tega membunuh orangtua dan kakaknya.

Padahal menurutnya, Dhio selama ini dikenal baik.

Begitu pula dengan ART keluarga korban, Sartinah yang sempat diminta oleh pelaku Dhio untuk menolong para korban.

Berikut pengakuan ART dan kakak kandung korban terkait pembunuhan satu keluarga ini.

Telepon ART

Sebelum ketiga korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, ternyata Dhio sempat menelepon Sartinah (47) asisten rumah tangga (ART) yang bekerja di rumah mereka.

Sartinah mengaku mengetahui kejadian setelah ditelepon oleh anak kedua dari korban (Dhio).

“Saya ditelepon sekitar pukul 07.30 WIB, saya kan posisinya tidak menginap. Terus, saya diminta untuk menolong tapi korban sudah pada pingsan semua, pingsannya itu di dalam kamar mandi semua,” ujar Sartinah saat ditemui di lokasi, Senin (28/11/2022).

Sartinah kemudian menolong korban yang dalam keadaan pingsan ke kamar. Dia dibantu oleh anaknya dan anak kedua korban (Dhio).

“Itu digotong bertiga, saya sama anak saya, sama anak kedua itu. Gotong semua, terus saya taruh di kasur. Ya, tadi kayaknya masih napas tapi saya tidak mengetahui sekali ya, badannya masih hangat. Sempat saya kasih minyak kayu putih juga,” ujar Sartinah.

Sartinah yang sudah 15 tahun bekerja di rumah tersebut mengaku, selama ini korban tidak pernah mengeluh sakit berat.

Namun, tiga hari kemarin memang korban sempat mengalami keracunan dari es dawet.

“Itu pernah waktu kemarin sekitar tiga hari lalu, kayak keracunan es dawet tapi itu sudah berobat, kok.”

“Terus ibu sama anaknya yang perempuan sudah sembuh cuma bapak lagi pemulihan. Kalau sakit lain paling cuma biasa kayak masuk angin tidak ada sakit yang berat,” ungkapnya.

Sartinah juga mengaku, selama bekerja bersama korban tidak pernah ada konflik antar keluarga. Keluarga Korban dikenal hidup rukun.

“Tidak ada, orangnya baik. Rukun,” ucapnya.

Setelah kejadian tersebut para keluarga korban datang dan membawa korban ke rumah sakit.

“Karena, saya juga panik menolong tiga-tiga itu semua. Saya kasih minyak kayu putih semua. Yang dibawa ke rumah sakit duluan itu pak Abas, kedua anaknya, dan terakhir ibunya,” urainya.

Agus tak curiga

Pengakuan sama juga diungkapkan kakak laki-laki kandung dari korban Heri Riyani (HR), Agus Sutiarso.

“Nuwun Sewu ya ini masalah menyangkut pelanggaran hukum. Dengan kejadian ini tuduhan dari aparat penegak hukum ditunjukkan pasalnya apa kita manut saja. Saya taunya terduga pelaku adalah anak kedua korban setelah olah TKP yang dilakukan kepolisian,” ujarnya.

“Di situ saya baru tau, bahwa yang bersangkutan anak kedua korban yakni DDS dibawa ke polisi. Tadi, saya sudah dimintai juga keterangan oleh kepolisian,” ujar Agus seusai pemakaman jenazah korban di TPU Sasonoloyo, Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Senin malam.

Ia menambahkan, sedari awal tidak ada menaruh curiga dari terduga pelaku. Namun, jika aparat kepolisian sudah membawa seseorang berarti sudah punya keyakinan.

“Sudah melalui alat bukti dan data kuatnya,” ujarnya.

Hatinya merasa sangat hancur ketika mengetahui adik kandung dan keluarga meninggal dunia. Ditambah, terduga pelaku adalah anak korban sendiri.

“Hancur hati saya sudah tau itu, walaupun itu yang diduga membunuh anaknya, tapi kan itu yang dibunuh adik saya, secara manusiawi kan seperti itu, siapa yang meninggal adek saya, saya sangat merasakan kehilangan,” tuturnya.

Kesaksian keluarga korban

Menurut keterangan keluarga korban, Abbas adalah pensiunan pegawai negeri sipil, Riyani adalah ibu rumah tangga.

Dhea tercatat sebagai pegawai di Jogja, sedangkan Dhio pada data yang didapatkan Tribunjogja tercatat sebagai pegawai.

Berdasarkan keterangan Agus, pada Senin pagi, Agus sempat bertemu dengan para korban dalam keadaan sehat wal afiat.

Pagi itu di rumah ada Abbas, Riyani, Dhea dan Dhio. Agus menyebut Dhea sedang berada di rumah karena sedang tak bekerja.

“Jadi di rumah itu ada 4 orang, ayahnya, ibunya, anak pertama perempuan anak kedua laki-laki,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Senin (28/11/2022).

Selanjutnya adalah saksi mengantarkan kakak tertuanya untuk terapi dan berobat.

Namun sesampai di rumah sakit, kakak tertuanya itu dihubungi kalau adiknya Riyani dan keluarganya ditemukan pingsan di rumahnya.

“Saya baru sampai di rumah sakit, kakak saya belum terapi. Itu langsung turun (dari RS) mengabari kalau adik saya dan keluarganya pingsan.

“Saya sempat bertemu dengan para korban dan di situ kondisinya sehat wal afiat,” ujarnya.

Setelah datang ke tempat kejadian perkara, kondisi korban ditemukan di lokasi berbeda korban Abas di kamar, Riyani di kasur depan televisi, dan Dhea di kamar depan.

Semuanya dalam kondisi pingsan.

“Saya gak berani langsung bawa ke rumah sakit karena saya harus komunikasi dengan pihak kakak adik semua. Terus saya menghubungi dan diputuskan membawa ke rumah sakit dengan persetujuan anaknya yang paling kecil juga (Dhio),” ujarnya.

Sebelum dilarikan ke rumah sakit, ia mengatakan, sempat memberikan minyak kayu putih kepada korban Riyani.

Sedangkan korban Dhea diberikan minyak kayu putih oleh ART.

Untuk korban Abas diberikan minyak kayu putih oleh anak kedua Dhio.

Menurut saksi, ketika dibawa ke rumah sakit semua dalam kondisi pingsan.

“Tapi kan ada kabar setelah bapak dan anaknya dibawa ke rumah sakit, yang terakhir adik saya (Riyani), bapaknya sama anaknya itu di rumah sakit meninggal.”

“Terus saya cari ambulans untuk membawa adik saya ternyata sampai di rumah sakit dinyatakan meninggal juga,” ucapnya.

Menurut Agus, selama ini tidak pernah ada konflik antar keluarga ataupun masalah.

Yang dia ketahui keluarga korban dalam kondisi baik.

“Tidak pernah ada konflik. Korban Abas ini baru saja pensiun per Oktober 2022 lalu dari jabatannya dulu sebagai kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) departemen keuangan,”ungkapnya.

Dhio sakit hati dibebani untuk bantu perekonomian keluarga

DDS diamankan polisi tak lama setelah polisi melakukan olah tempat kejadian perkara di lokasi penemuan mayat di Jalan Sudiro, No.2, Gang Durian, RT10/RW1, Dusun Prajenan, Desa Mertoyudan, Kabupaten Magelang.

Dari pemeriksaan yang dilakukan oleh penyidik, DDS akhirnya mengakui semua perbuatannya yang menaruh racun di minuman teh hangat dan es kopi yang diminum para korban.

DDS mengaku sengaja menaruh racun di minuman karena sakit hati terhadap orang tua dan kakaknya.

Selama ini, DDS mengaku dibebani oleh keluarganya untuk membantu perekonomian keluarga setelah ayahnya pensiun.

Sementara kakaknya tidak dibebani untuk membantu perekonomian keluarga.

Plt Kapolresta Magelang AKBP Mochammad Sajarod Zakun mengatakan motif pembunuhan berancana yang dilakukan oleh DDS karena sakit hati.

Menurut Kapolres, sakit hati pelaku terhadap orang tua dan kakaknya ini bermula saat sang ayah memasuki masa pensiun sekitar dua bulan silam.

Otomatis pemasukan untuk keluarga hanya bersumber dari uang pensiun yang diterima oleh AA.

Sebab, DDS dan DK tidak bekerja.

Sementara kebutuhan keluarga cukup tinggi karena AA juga menderita sakit.

Uang pensiun tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengobatan AA.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, DDS pun dibebani untuk membantu perekonomian keluarga.

Sedangkan kakak perempuannya DK tidak dibebani.

Hal itulah yang membuat pelaku sakit hati sehingga merencanakan pembunuhan terhadap ketiganya.

“Anak pertama (DK) sempat bekerja, tapi sekarang sudah keluar, sedangkan anak kedua tidak bekerja. Tapi dia (DDS) dibebani untuk membantu keuangan keluarga. Hal itulah yang membuat pelaku sakit hati,” jelasnya.

DDS pun kemudian merencanakan pembunuhan dengan membeli racun jenis arsenik secara online.

otomotif, dhio sempat telepon art minta pertolongan, agus semula tak curiga keponakannya itu racuni sekeluarga

Tiga anggota keluarga ditemukan tewas di sebuah rumah di Jalan Sudiro, No.2, Gang Durian, RT10/RW1, Desa Prajenan, Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Senin (28/11/2022). Rumah korban ketika dipasangi garis polisi saat olah TKP di Dusun Prajenan, Desa Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Senin (28/11/2022). (TribunJogja.com/Nanda Sagita Ginting)

Racuni es dawet

Ini bukan kali pertama Dhio berupaya membunuh keluarganya.

Sebelumnya pada 23 November lalu, dia menaruh racun jenis arsenik di minuman dawet yang sengaja dibelinya.

Kemudian dawet-dawet itu diberikan kepada orang tua, kakak serta beberapa orang lainnya.

“Rabu sudah mencoba (meracuni korban), tapi kadar racunnya rendah sehingga hanya membuat korban muntah-muntah,” jelasnya.

Karena gagal, pelaku kembali melakukan aksinya dengan menaruh racun di minuman teh dan es kopi pada Senin (28/11/2022) kemarin.

Pelaku menaruh racun sebanyak dua sendok teh ke minuman yang diminum oleh para korban hingga akhirnya meninggal.

AKBP Mochammad Sajarod Zakun menambahkan, saat ini pelaku sudah ditahan penyidik dan dijerat dengan pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup.

Dhea gagal menikah

Rencana pernikahan DK kini sirna.

DK meninggal dunia bersama kedua orang tuanya AA dan HR di rumahnya pada Senin (28/11/2022) pagi.

Ketiganya meninggal setelah mengonsumsi minuman beracun.

Tragisnya, pelaku yang melakukan pembunuhan dengan cara membubuhi racun arsenik ke dalam minuman teh dan kopi yang diminum oleh satu keluarga tersebut adalah adik kandungnya sendiri berinisial DDS.

Racun yang dibeli secara online tersebut dibubuhkan oleh DDS pada teh dan kopi pada Senin (28/11/2022) pagi.

Ketiga korban, yakni DK, AA dan HR yang meminum teh dan kopi beracun tersebut langsung meninggal dunia.

otomotif, dhio sempat telepon art minta pertolongan, agus semula tak curiga keponakannya itu racuni sekeluarga

Pihak kepolisian saat melakukan olah TKP di rumah korban, di Jalan Sudiro, No.2, Gang Durian, RT10/RW1, Dusun Prajenan, Desa Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Senin (28/11/2022) (TribunJogja.com/Nanda Sagita Ginting)

Ketiganya meninggal tak lama setelah mengkonsumsi teh dan kopi beracun di dalam kamar mandi.

Kini, rencana DK untuk bersanding di pelaminan sirna.

DK meninggal di tangan adik kandungnya sendiri.

Kakak HR atau pakde DK, Agus Kustiardo (58) membenarkan kalau keponakannya tersebut akan menikah.

Hanya saja, kapan pernikahan itu akan dilaksanakan belum ditentukan karena belum ada pertemuan dengan keluarga besar.

“Memang ada informasi akan menikah, tetapi belum tahu kapannya. Soalnya belum ada rembukan dengan keluarga,” ujarnya, Senin (28/11/2022) malam.

Soal rencana pernikahan korban DK juga diketahui oleh Kepala Desa Mertoyudan Eko Sungkono.

Ia membenarkan, kalau informasi korban akan menikah.

“Iya, setahu saya memang akan menikah. Namun, memang kapannya belum diketahui. Belum ada juga laporan ke KUA,” urainya.

Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com