Kuliner

Dari Raja sampai Genderuwo, 80 Jenis Pisang di Yogya Sudah Bebas Hama Penyakit

kuliner, dari raja sampai genderuwo, 80 jenis pisang di yogya sudah bebas hama penyakit

Gelar Potensi Pertanian Kota Yogyakarta 2022. Foto: Pemkot Yogya

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Suyana, mengungkapkan saat ini ada sekitar 80 jenis pisang yang berhasil dikembangkan di Kota Yogya. 80 jenis pisang itu dikembangkan di dalam laboratorium menggunakan teknologi kultur jaringan.

Bibit-bibit yang dihasilkan dari metode perbanyakan kultur jaringan tersebut juga telah berhasil diaklimatisasi, yakni tahap peralihan dari kondisi in vitro di dalam laboratorium ke kondisi ex vitro di media tanam yang baru.

“Dengan teknologi ini benih yang dihasilkan bisa seragam, jumlahnya lebih banyak, dan bebas dari hama penyakit,” kata Suyana dalam pembukaan Gelar Potensi Pertanian 2022 di Balai Kota Yogyakarta, Jumat (18/11).

Adapun 80 jenis pisang yang dikembangkan adalah pisang-pisang yang menjadi unggulan di Kota Yogyakarta. Hasil dari pisang-pisang yang dikembangkan itu menjadi salah satu yang ditampilkan di festival pangan tersebut.

“Seperti pisang raja, kepok, ambon, emas, genderuwo, dan aneka jenis pisang unik lainnya,” ujarnya.

kuliner, dari raja sampai genderuwo, 80 jenis pisang di yogya sudah bebas hama penyakit

Gelar Potensi Pertanian Kota Yogyakarta 2022. Foto: Pemkot Yogya

Dia berharap pengembangan komoditas pisang-pisang lokal ini dapat mendukung ketahanan pangan lokal di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Selain aneka macam pisang, komoditas pertanian lain juga ditampilkan dalam festival pangan tersebut yang berasal dari 45 peserta dari perwakilan tiap kalurahan.

Misalnya aneka snack yang dibuat dari bahan non-gandum, bahkan hasil pertanian non-pangan seperti tanaman hias aglonema dan anggrek.

“Ada juga kontes ikan guppy hasil peternak-peternak Yogyakarta,” kata Suyana.

Sementara itu, Penjabat Wali Kota Yogyakarta, Sumadi, mengatakan bahwa Gelar Potensi Pangan yang digelar oleh Pemkot Yogya merupakan salah satu bukti bahwa dengan keterbatasan lahan Yogya mampu menghasilkan komoditas dan produk-produk pangan yang berkualitas dan punya daya saing.

“Luas Kota Yogya itu hanya 32 kilometer persegi, tapi kita punya kreativitas dan inovasi luar biasa hingga bisa membuat Lorong sayur yang hasil panennya bisa mendorong ketahanan pangan masyarakat,” ujarnya.

Bukan hanya untuk mendukung ketahanan pangan, lorong-lorong sayur yang ada di Yogya juga telah memperkokoh ketahanan sosial masyarakat untuk hidup guyub rukun di kampung wilayah masing-masing dengan prinsip ‘mangan opo sing ditandur, nandur opo sing dipangan’ (makan apa yang ditanam, menanam apa yang dimakan).

“Inovasi ini juga yang membawa Yogyakarta menjadi Kota Terbaik Pertama pada Penghargaan Pembangunan Daerah 2022 dari Bappenas,” ujarnya.