Kuliner

Cerita Pria yang Pecahkan Rekor 2.000 Penerbangan demi Review Makanan di Pesawat

kuliner, cerita pria yang pecahkan rekor 2.000 penerbangan demi review makanan di pesawat

Ilustrasi bandara. Foto: Shutterstock

Seorang pria asal London berhasil memecahkan rekor jadi orang yang paling banyak melakukan penerbangan di dunia. Bukan sekadar perjalanan, pria ini tak hanya berhasil keliling dunia, tetapi juga me-review setiap makanan yang ada di pesawat.

Dilansir news.com.au, pria bernama James Asquith melakukan perjalanan traveling-nya selama 15 tahun. Selama itu pula ia juga telah menempuh 2.000 penerbangan, mengunjungi berbagai negara dan traveling sejauh 6.500.000 kilometer (km). W0w!

kuliner, cerita pria yang pecahkan rekor 2.000 penerbangan demi review makanan di pesawat

Ilustrasi makanan di dalam kabin pesawat Foto: Shutter stock

Menariknya, Asquith memiliki cara yang berbeda untuk berkeliling dunia. Kalau biasanya banyak traveler yang keliling dunia untuk mengunjungi tempat-tempat baru, pria asal London tersebut justru ingin mengulas makanan yang ia dapatkan saat naik pesawat.

Makanan yang dapatkan di pesawat, ia dokumentasikan dan diulas, lalu kemudian dibagikan ke akun media sosialnya.

“Saya suka makanan di pesawat, dan setelah hampir tinggal di pesawat. Lama-lama kamu akan terbiasa,” ujar Asquith.

Selama traveling, pria yang sudah melalangbuana ke berbagai tempat mengaku telah menikmati banyak makanan di pesawat.

Meski demikian, Asquith mengaku bahwa salah satu makanan favoritnya yang pernah ia makan adalah hidangan yang disajikan di All Nippon Airways (ANA). Maskapai asal Jepang tersebut menyajikan stik wagyu yang menurutnya terbaik.

“Saya harus mengatakan makanan Jepang dan steak wagyu di maskapai Jepang ANA dan Japan Airlines adalah yang terbaik,” ungkap Asquith.

Selain makanan favorit, Asquith juga menyebut bahwa ada satu maskapai yang menurutnya menyajikan inflight meal yang hambar alias aneh. Pengalaman tersebut pernah ia dapatkan saat menaiki salah satu maskapai negara Afrika, yaitu Sudan Airways.

“Makanan paling aneh yang saya miliki adalah daun dengan saus. Itu agak sederhana dan saya pikir itu di Sudan Airways,” tuturnya.

Cerita Travelingnya Pertama Kali

Selain menceritakan pengalaman makanan yang pernah ia cicipi, Asquith juga mengungkapkan perjalanan traveling pertamanya. Perjalanan traveling-nya tersebut ia mulai ketika berusia 18 tahun.

Saat itu, ia tak pernah terpikir untuk bisa keliling dunia. Asquith pun hanya berjalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya, yakni London.

“Ketika traveling pertama kali saya berumur 18-24 tahun. Saya saat itu membawa tas backpack besar dan hanya memiliki sedikit uang,” kenangnya.

Karena kecintaanya dengan dunia traveling, Asquith akhirnya mencoba untuk mendirikan bisnis perjalannya sendiri yang dinamai dengan Holiday Swap. Adapun, perusahaannya tersebut berfokus pada layanan rental rumah dan properti.

“Sekarang, setelah bekerja selama beberapa tahun, banyak hal telah berubah bagi saya dengan cara yang sangat baik,” ujar Asquith.

Asquith mengaku bahwa perjalanannya tersebut benar-benar dilakukannya sendiri dan menggunakan bujet yang ia tabung.

“Tidak ada yang namanya posting sponsor atau perjalanan, jadi saya bangga banyak kerja keras terbayar. Saya mengerjakan segala macam pekerjaan, bahkan sejak usia 12 tahun, dan menghabiskan setiap sen yang saya bisa. Saya bertujuan untuk membeli rumah, tetapi saya rasa semuanya berubah pada usia 18 tahun, ketika saya akhirnya memutuskan untuk solo traveling,” ujar Asquith.

Kini, Asquith telah bepergian selama 15 tahun lebih. Setelah merasakan perjalanan tersebut, ia ingin memberikan kemudahan kepada mereka yang mau mengikuti jejaknya. Untuk itulah, Asquith mendirikan perusahaan perjalanan miliknya sendiri.

“Saya telah bepergian selama hampir 15 tahun sekarang, dan karena pengalaman dari perjalanan saya, saya ingin memberikan kembali dan membaginya dengan orang lain dengan harga yang lebih terjangkau. Itulah sebabnya saya mendirikan Holiday Swap,” katanya.

Ketika ditanya kenapa dirinya ingin me-review makanan, Asquith mengatakan bahwa ia selalu senang dan penasaran ketika awak kabin mengantarkan makanan saat di pesawat.

“Me-review makanan tidak pernah menjadi sesuatu yang saya pikir akan sering saya alami. Saya, jadi seperti anak kecil, karena selalu sangat senang melihat makanan dan minuman yang tersedia di setiap penerbangan,” ujarnya.

Asquith mengungkapkan perjalanan traveling-nya tersebut setidaknya menghabiskan dana sekitar 257-342 ribu dolar Australia Rp 2,5-3,3 miliar. Namun, setelah mendirikan perusahaan perjalananya tersebut, Asquith mengaku bisa menghemat pengeluaran traveling-nya jadi 170 ribu dolar Australia atau Rp 1,6 miliar saja.