Menemukan

Berbagai Layangan Berbentuk Unik Ramaikan Festival Layang-layang di Surabaya, Ada yang Sate Pikul

Menemukan, Pengalaman

Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Bobby Constantine Koloway

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Surabaya Kite Festival berjalan semarak dengan menarik antusias peserta dari mancanegara, Sabtu (1/10/2022). Sekalipun, festival layang-layang tahunan di Surabaya ini sempat diwarnai hujan disertai angin kencang.

Berdasarkan pantauan di lokasi di Long Beach Area Selatan, Pakuwon City Kota Surabaya, peserta yang hadir di antaranya berasal dari Singapura, Jepang, Swedia, hingga Polandia. Juga, sejumlah pelayang lokal dari Surabaya, Jogjakarta, Jakarta, hingga beberapa kota dari Kalimantan dan Sumatera.

Pada ajang yang digelar oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga, serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya ini, mereka tersebar di beberapa kelas.

“Total, ada sekitar 92 peserta yang ikut ajang ini,” kata Kepala Bidang Pariwisata Disbudporapar Surabaya, Farah Andita Ramdhani ditemui di sela acara.

Pada hari pertama, mereka mengikuti perlombaan layang – layang 3 dimensi, dan layang – layang Rangkaian/Train Bukan Naga. Pada hari kedua, Minggu (2/10/2022) masing-masing peserta akan berlomba di kategori layang-layang 2 dimensi.

Pada layang-layang 3D tersebut, ada berbagai bentuk yang diterbangkan. Mulai dari tokek, gamelan (alat musik tradisional), laba-laba, hingga tukang sate pikul.

Farah mengungkapkan, agenda ini sebenarnya menjadi agenda rutin Pemkot sebagai ajang pariwisata. Namun, sempat terhenti sejak kali terakhir digelar pada 2017 lalu.

“Ini menjadi kali pertama digelar selama pandemi. Alhamdulillah, antusias pesertanya cukup besar,” tandasnya.

Nantinya, para peserta akan memperebutkan total hadiah senilai Rp52,5 juta. Untuk pemenang di masing-masing kategori, juara pertama hingga ketiga masing-masing mendapatkan hadiah senilai Rp5 juta, Rp 4 juta, dan Rp3 juta.

Serta, pemenang harapan pertama hingga ketiga masing-masing mendapatkan hadiah sebesar Rp2,5 juta, Rp2 juta, dan Rp1 juta. “Ada juri yang akan menilai berdasarkan sejumlah aspek kriteria,” katanya.

Tak hanya ajang perlombaan, acara ini juga dirangkai dengan sejumlah agenda lain. Di antaranya, eksibisi pelayang nasional dan internasional, workshop layang – layang, bazaar UMKM, bazaar layang – layang, sport Kite Perform, hingga tampilan seni.

Termasuk, juga keterlibatan UMKM yang menjajakan makanan dan berbagai produk lainnya. “Kami siapkan tenda untuk spot UMKM. Harapannya, ajang ini juga membawa dampak positif di sektor ekonomi,” katanya.

Sekalipun berlangsung semarak, acara ini sempat diwarnai dengan hujan disertai angin. Akibatnya, lomba pun sempat beberapa kali dihentikan.

Bahkan, kencangnya angin sempat merobohkan beberapa tenda di lokasi. Walaupun, hal ini tak menyurutkan antusias para peserta.

Di antaranya adalah Soni Nuriyanto, peserta asal Sleman. “Tantangan saat lomba layangan adalah cuaca,” kata Soni di lokasi.

“Biasanya, memang kalau anginnya tidak terlalu besar ya terlalu kecil. Keduanya membuat layangan sulit terbang dan bagi kami para pelayang ini hal biasa,” kaya pria yang juga menjabat Ketua Perkumpulan Pelayang Seluruh Indonesia (Pelangi) Kabupaten Sleman ini.

Soni bersama tim menjadi salah satu peserta yang menunggu even di Surabaya cukup lama. Sebab, selain menjadi ajang lomba acara ini juga menjadi pertemuan para pehobi layang di dunia.

“Kami tak ada target juara. Namun, even di Surabaya ini memang selalu menarik sebab selalu diikuti oleh berbagai peserta dari nasional maupun internasional,” tandasnya.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com